Time to Get Going

July 17th, 2007 by anton-dewantoro

Time to Get Going

There’s an old story about a man who heard a neighbor playing the clarinet.

"Boy, you’re a good clarinet player," he said. "Could you teach me to play?" The clarinetist said, "If you want to make that commitment, of course I could. It takes time to get good." "How long?" asked the prospective student. "In seven years you’d be quite good," replied the musician. "Seven years! I’ll be 46 years old in seven years!" Said the clarinet player: "How old will you be if you don’t study clarinet?"

How old will you be in seven years if you don’t pursue your dream? Get started now.

Mistakes Faster

May 27th, 2007 by anton-dewantoro

A computer lets you make more mistakes faster than any other human invention in history,
with the possible exception of handgun and tequila–Mitch Ratcliffe.

Serba cepat! Itulah tuntutan yang selalu menghantui setiap tindakan sadar kita. Demi menjadi semakin cepat dan efisien, mendasari hampir setiap tindakan kita. Banyak yang meyakini bahwa siapa pun yang tidak bisa lebih cepat dan lebih efisien akan lebih cepat punah di dunia yang makin kejam ini.

Komputer dan teknologi informasi sebagai produk utama yang dihasilkan dari alat yang semula bertujuan untuk sekadar menghitung itu telah merasuk ke dalam kehidupan masyarakat yang ingin semua serba cepat. Selain seba cepat semua hal juga dibikin serba terpusat sekaligus serba terhubung satu sama lain.

Dengan cepat pos, wesel,dan telegram tergeser oleh e-mail, e-banking, dan instant messaging. Banyak hal bisa dicari secara cepat lewat google atau wikipedia yang mana lebih praktis ketimbang harus pergi ke perpustakaan daerah yang belum tentu lengkap dan bisa menjawab pertanyaan. Komunitas-komunitas bisa melakukan rapat anggota setiap saat melaui forum di mailing list. Persahabatan bahkan perjodohan dengan mudahnya ditolong oleh keberadaan Friendster sehingga kawan lama saat SD pun bisa kita lacak perkembangannya dan bagi yang belum berjodoh pun tak perlu repot dan malu pergi ke biro jodoh atau pasang iklan di koran. Blog membantu siapa saja menuangkan dan menyebarkan ide berupa gambar atau tulisan dimana pada masa lalu hal ini sulit sekali dilakukan karena perlu menembus sistem penerbitan agar ide kita bisa didengar orang.

Masih segudang lagi manfaat TI (teknologi informasi) baik untuk pribadi maupun perusahaan. Mulai dari sekadar pengarsipan sampai kemudahan akses data untuk berbagai keperluan, perusahaan modern sangat bergantung pada sistem TI. Bank Mandiri sebagai the best e-corporation versi majalah swa telah menghabiskan US$ 2,432 juta untuk membangun sistem TI nya. Namun apakah memang manfaat TI benar-benar mujarab? Apakah TI benar-benar membawa banayak kemudahaan? Apakah dibalik semua kemudahan itu ada kesulitan besar?

Semua yang serba cepat, serba terpusat, sekaligus serba terhubung ini saya yakin mengandung sejumlah bahaya laten. Masih ingat kekhawatiran Y2K yang mana banyak sistem diduga akan kacau saat angka tahun berubah dari 99 ke 2000? Memang tidak ada dampak besar yang terjadi karena beberapa kesalahan yang mungkin muncul bisa diantisipasi sebelumnya. Namun demikian kemungkinan sistem yang serba terkomputerisasi dan terpusat itu menjadi kacau dan bejalan tidak semestinya bisa terjadi setiap saat. Sebagaimana halnya buatan manusia lainnya tentu banyak pula manusia yang lain yang bisa membuat fungsinya berjalan salah. Bukan tidak mungkin Chernobyl baru akan terjadi akibat kesalahan kecil seorang pengguna komputer. Bagai pisau bermata dua, komputer memebrikan solusi cepat sekaligus mempercepat pula terjadinya sejumlah kesalahan.

Sebenarnya saya cuma berbagi kekhawatiran dengan anda karena cukup kesal dengan banyaknya kesalahan yang saya bikin lewat perangkat bernama komputer. Saya pikir tadinya hanya karena saya bodoh namun ternyata rekan saya yang cukup cerdas dan teliti pun tak terhindarkan dari masalah dengan komputer. Memang sih tidak sampai memunculkan gejolak sosial politik seperti kerusuhan Mei 1998 tapi cukup mengancam reputasi saya dan celakanya juga berdampak ke orang-orang di sekitar saya. Yang jelas, yang pasti, dan yang benar adalah saya harus belajar dan lagi-lagi belajar terutama belajar yang namanya komputer dan TI. Yuk belajar bareng yuk!

Numpak Prau Layar

May 2nd, 2007 by anton-dewantoro

Menyeberanglah, seperti keajaiban Nabi dengan tongkatnya.

Kamu akan dipeluk tangan kehidupan, dijaga ibu segala ibu.

Menyeberanglah, jalanlah di atas laut seperti Nabi memberi Keselamatan.

Kamu akan menemui nelayan yang tidak sekadar menjala ikan, namun menjala kehidupan.

Aku pengen numpak prau layar pariwisata…eee anggliyak numpak prau layar…. tidak harus perahu layar, kapal pesiar juga mau, mau banget malah. Konon ada paket ekspedisi galapagos, kutub selatan, asia tenggara…wow! Nggak harus nunggu reinkarnasi jadi bule kan supaya bisa bertualang pake kapal pesiar nan mewah. Jawa nan hitam ini berhak juga kan?

NB: Ibu di sajak di atas mengacu pada kata Mare (latin) yang berarti laut yang bisa juga berarti maria yaitu ibu

Tentang Tidur

April 22nd, 2007 by anton-dewantoro

Don’t Stay in Bed,
Unless you can make money in bed–George Burns

Entah Siapa George Burns itu yang jelas kata-kata diatas saya kutip dari game Lemonade Tycoon yaitu permainan komputer ringan yang intinya adalah mendirikan kerajaan bisnis es limun (terjemahan lemonade setahu saya masih limun dan bukan lemon). Game tersebut memang tidak terlalu menarik namun cukup bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana mengusahakan penjualan es limun mulai dari usaha di sekitar rumah hingga merajai seluruh kota.

Memang benar bahwa tidur adalah kebutuhan pokok manusia yang pemenuhannya bersifat mutlak. Kekurangan tidur beberapa jam saja bisa mengganggu seluruh aktivitas pada hari berikutnya dan jika masalah tidur tidak dapat segera diatasi bukan tidak mungkin penyakit pun siap menghampiri. Namun terlalu banyak di tempat tidur juga sangat tidak produktif, badan menjadi kaku, kreativitas beku, dan membuat kita hanya bermimpi saja.

Kecuali jika kita memang bisa mendapatkan uang dari tempat tidur,maka tak ada alasan bagi kita untuk berlama-lama bergumul dengan tempat tidur. Meskipun kita tahu pada kenyataannya ada orang-orang tertentu yang uangnya bertambah banyak justru jika dia semakin sering tidur (mungkin tidur dalam tanda kutip).

Jadi masih adakah alasan untuk tetap berlama-lama tidur tanpa mengerjakan sesuatu yang berarti? Bagi saya susah juga untuk menjawabnya, lha wong saya ini paling suka tidur jhe.

Tugas HIdup

April 17th, 2007 by anton-dewantoro

Apa pun tugas hidup anda, lakukan dengan baik. Seseorang semestinya melakukan pekerjaannya sedemikian baik sehingga mereka yang masih hidup, yang sudah mati, dan yang belum lahir tidak mampu melakukannya lebih baik lagi. (Martin Luther King)

Wow betapa berat tugas hidup kita. Melakukan yang terbaik sehingga semua yang masih hidup, yang sudah mati, dan belum lahir tidak mampu melakukan tugas hidup kita dengan lebih baik lagi.

Mungkin memang semangat yang demikian yang melandasi para inovator. Bayangkan saja jika Edison menyerah, tentu bukan dia yang akan mendapat kehormatan sebagai penemu bola lampu yang akan selalu diingat oleh semua orang sepanjang masa. Mungkin dunia perlu menunggu beberapa generasi lagi untuk bisa menikmati cahaya buatan di malam hari. Betapa pun kecilnya tugas hidup kita perlu kiranya dilakukan sebaik mungkin sehingga dunia tidak perlu menanti beberapa generasi lagi supaya tugas itu terselesaikan.

Abad ini sebenarnya abad terbaik untuk berkembang bagi semua orang. Belum pernah ada masa dimana orang golongan paling bawah pun bisa menapaki kelas sosial yang semakin horisontal saja. Dunia semakin egaliter. Posisi wanita dan pria hampir sejajar di semua bidang kehidupan. Informasi dan pengetahuan dari seluruh dunia semakin mudah diperoleh dan bertukar.

Jika masih ada yang mengatakan ini adalah jaman sulit mungkin orang tersebut cukup malas untuk melihat peluang yang ada dimana-mana. Memang di sana sini masih ada masalah sosial, kesehatan, kesewenang-wenangan, dan segala keburukan lain. Namun demikian jika kita tinjau kuantitasnya tentu sudah banyak turun dibandingkan abad-abad sebelumnya. Percayalah bahwa saat ini dan kondisi seperti inilah yang paling kita butuhkan untuk maju.

Jadi…sudahkan anda menemukan tugas hidup anda?

Mentalitas Priyayi versus Kawula

April 11th, 2007 by anton-dewantoro

Sedikit oleh-oleh dari Jogja. Jogja, kota dengan budaya adiluhung, kota pelajar dan kaum intelektual. Nah tulisan kali ini juga tentang seorang intelektual yang menobatkan diri sebagai pakar multimedia dan telematika dan bukan kebetulan juga beliau ini seorang dari kalangan priyayi, sebut saja tokoh kita kali ini Raden Mas R.S. Mungkin kalau terdapat kemiripan nama atau gelar maka hal itu hanya kebetulan semata.

Begini ceritanya, beberapa waktu yang lalu ketika prahara angin topan puting beliung melanda kawasan Lempuyangan Yogyakarta kawan saya Dono Sumardjikoen beserta kru dari 0-0 media baru saja selesai melakukan shooting video dan kebetulan lewat tak jauh dari pusat angin puting beliung. Seperti lazimnya kameramen, peristiwa semacam puting beliung, terlebih yang terjadi di depan mata, tentu tidak akan dilewatkan begitu saja dengan terperangah atau sibuk menyelamatkan diri. Dengan gagah berani Dono, Bimbim, Subur, dan Klowor merekam kejadian tersebut dan terus mengikuti kemana pusaran angin maut tersebut bergerak menerbangkan genting, atap seng, maupun papan baliho. Dan demikianlah terbikinlah video angin puting beliung yang memiliki nilai sangat tinggi berkat momen yang tepat.

Bimbim sebagai team leader mereka segera menghubungi pihak televisi karena dia menilai masyarakat perlu tahu bagaimana dahsyatnya angin tersebut melanda sementara soal uang bukanlah tujuan utama. Adalah stasiun berita Katro TV dan Perkutut Citra Televisi Indah (PCTI) yang segera merespon pemberitahuan Bimbim tersebut. Kedua koresponden baik dari Katro TV maupun PCTI segera melakukan penawaran harga dan uniknya keduanya memberi harga yang kompak yaitu 300 ribu rupiah namun keduanya tetap saling tarik-ulur mengenai hak siar video tersebut. Tentang harga yang sedemikian rendah, para koresponden berdalih bahwa video semacam itu hanya memiliki rating kelas 3 (video berita pinggiran) yang sebenarnya terungkap kemudian layak mendapat rating kelas 1 karena muncul di Headline News dan berkali-kali diputar selama berhari-hari. Tentang harga 300 ribu rupiah tersebut juga agak aneh karena informasi dari pusat Katro TV yang datang kemudian menyatakan bahwa mereka akan membayar 500 ribu rupiah untuk penayangan video tersebut. Sepertinya telah terjadi semacam kecurangan oleh para koresponden lokal tentang harga video tersebut. Karena itulah Bimbim dkk memutuskan untuk tidak menjual video itu kepada koresponden televisi mana pun.

Karena tidak ingin lebih jauh pusing tentang deal-deal komersial yang tampaknya berbau kecurangan, maka Bimbim mendatangi seorang pakar Multimedia dan Telematika, Raden Mas R.S. dengan harapan beliau akan tahu tindakan apa yang tepat menyangkut video angin puting beliung tadi. Menurut Raden Mas R.S. ada baiknya jika video tersebut dipakai untuk kepentingan edukasi dan sosial dan untuk kepentingan itu biar Sang Raden Mas sebagai seorang pakar dan juga priyayi yang mengerjakannya. Dan demikianlah dengan polosnya serta penuh kepercayaan, Bimbim menyerahkan copy video tersebut tanpa suatu syarat apa pun dengan harapan bisa memberi manfaat kepada orang banyak.

Bagaikan petir yang menyambar kepala mereka, beberapa saat kemudian video tersebut ternyata ditayangkan di Headline News Katro TV dengan nama pengirim Raden Mas R.S. Ternyata Raden Mas R.S. yang kebetulan juga host di sebuah acara teknologi di televisi tersebut telah menjual video tersebut lewat jalan belakang dan bukan hanya itu dia terang-terangan telah merampas hak cipta video dengan memampang namanya. Pada akhirnya memang Ia meminta maaf kepada Bimbim dan pada penayangan hari berikutnya video tersebut diubah tulisannya menjadi "Video Kiriman Raden Mas R.S. dan Bimbim". Namun nasi telah menjadi bubur, kecurangan besar oleh orang besar telah terjadi.

Mungkin memang sudah demikian adanya watak priyayi yang selalu berusaha merampas dari yang lebih jelata guna kemahsyuran namanya. Dan mungkin memang sudah sifat orang kecil di negeri ini untuk juga mengecilkan segala yang melekat padanya termasuk karyanya besarnya sendiri sehingga dia merasa lebih baik dirampas oleh priyayi daripada dibeli secara curang oleh sesama orang kecil. Nampaknya memang jurang antara Priyayi dan Kawula masih juga lebar di jaman serba egaliter seperti saat ini.

GODVERDOME KOWE ORANG !

April 1st, 2007 by anton-dewantoro

Budha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva yang tertinggi diantara dewa-dewa. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan. –Mpu Tantular.

Apa sebabnya dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah suku Jawa melebihi daripada suku-suku lain di nusantara ini? Mengapa jawa memiliki latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan kebudayaan lebih banyak pada suatu kurun sejarah tertentu? Malah dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa eropa tertentu dalam bidang tertentu? Pada abad keempatbelas orang jawa sudah biasa menuliskan puisi pada daun lontar sementara sebagian besar orang Eropa masih buta huruf. Mengapa juga pusat kekuasaan nasional semenjak jaman Belanda sampai sekarang selalu dipusatkan di Jawa? Tidakkah hal semcam ini menggelitik pemikiran anda?

Konon penyebabnya justru sifat bangsa Jawa yang selalu mencari kesamaan, keselarasan, dan melupakan perbedaan untuk menghindari bentrokan sosial. Sifat untuk selalu sinkron ini terkadang sampai tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannya Jawa justru sering jatuh pada satu kompromi ke kompromi lain sampai kehilangan prinsip-prinsip. Jawa lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip.

Watak serba disesuaikan itu muncul karena perang yang tidak berkesudahan. Perdamaian dinilai lebih penting sehingga prinsip pun ditinggalkan. Sampai ke ranah paling pribadi yaitu agama terdapat pula kompromi. Dua agama besar pada masa Hayam Wuruk yaitu Hindu dan Budha dipersatukan dan dikompromikan oleh dua konseptor kenegaraan yaitu Mpu Tantular dan Mpu Prapanca demi perdamaian. Samapai sekarang pun orang Jawa masih sering kebingungan jika diminta membedakan keduanya. Begitu juga waktu masuknya Islam, orang masih mencari-cari kesamaan antara Shiva-Budhisme dengan Islam.

Karena selama berabad-abad terbiasa meninggalkan prinsip, ketika bangsa Eropa yang telah maju namun memegang teguh prinsip masuk ke Jawa, tergilaslah bangsa Jawa. Orang Eropa lebih kecil jumlahnya namun menang karena prinsip.

Pada masa kini, watak tanpa prinsip orang Jawa, yang rupanya telah menjalar ke suku-suku lain pula, telah menjadikan bangsa ini kehilngan ciri dan kepercayaan diri sebagai bangsa. Adakah diantara anda yang percaya jika bangsa Indonesia ini benar-benar menjadi bangsa yang terkemuka karena maju di semua bidang? Yakinkah anda jika bangsa ini suatu saat nanti tidak hanya menjadi pemain pinggir namun menentukan perkembangan seluruh peradaban umat manusia? Kalaupun bisa, apa yang akan kita tawarkan kepada bangsa lain? Bahkan prinsip pun kita tidak punya. Godverdomme kowe orang!

MARKETING IN DOLOP

March 28th, 2007 by anton-dewantoro

"Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntunganya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari permata, apa pun yang kau inginkan, tidak dapat menyamainya"–Alkitab,AMSAL 3:13-15

Belakangan ini saya agak tertarik dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan keuangan dan perekonomian. Apakah ini adalah tanda-tanda saya akan segera menggantikan Hermawan Kartajaya? Ah, yang pasti ini akibat dari banyak bergaul dengan Dody Wijaya si pakar Reksadana dan ORI.

Pernahkah anda perhatikan bagaimana grup waralaba Bread Talk dan JCo Donuts memulai membuka usahanya di suatu tempat? Pada umumnya kita mendapatkan suguhan antrian panjang manusia dari yang cantik sampai yang katrok. Hal ini saya saksikan sendiri ketika JCo donut pertama kali dibuka di Plaza Semanggi dan Bread Talk dibuka di Plaza Ambarukmo Jogja. Antrian yang panjang tersebut sungguh mengundang penasaran setiap orang yang lewat untuk ikut memperpanjang antrian alias menjadi konsumen. Namun apa yang terjadi setelah beberapa saat berselang? Panjang antrian di kedua tempat tersebut ternyata berkurang sementara jumlah servernya tetap, berarti menurut Erlang ada penurunan trafik alias pelanggan berkurang. Akan tetapi ternyata bahwa jumlah pelanggan mereka justru bertambah. Lantas kemanakah para pengantri yang ramai saat kedua gerai makanan tadi dibuka? Konon mereka ini sengaja dijejerkan di antrian dan bertingkah seolah-olah seperti konsumen.

Konsumen aspal yang sengaja didatangkan untuk meramaikan suasana transaksi sebenarnya bukan hal baru dan monopoli orang kota saja. Kejadian yang serupa terjadi pula di sebuah kota kecil di tengah-tengahnya Jawa Tengah, Muntilan. Kisah ini menimpa ayah dari rekan saya Teguh (mari kita sebut saja Papa T Guh) yang bermaksud membeli burung di pasar Muntilan. Alkisah di sebuah kios burung Papa T Guh tertarik pada kerumunan orang yang merubungi seekor burung penyayi yang dari kejauhan memang terdengar merdu. Karena terpesona oleh merdunya suara burung, yang ternyata hanya siulan dari salah seorang di kerumunan, dan testimoni dari "calon-calon customer" lain maka ketika si penjual memberi banderol harga 60 ribu rupiah kontan saja burung tersebut dibayar. Namun begitu sampai dirumah, burung tersebut tidak dapat bernyayi karena ternyata burung tersebut berjenenis kelamin betina yang memang tidak bisa bernyanyi seperti yang jantan. Akhirnya burung tersebut terpaksa di jual lagi namun hanya laku sembilan ribu rupiah saja. Dolop, begitulah sebutan untuk orang-orang yang bertugas meramaikan suasana transaksi di pasar-pasar tradisonal. Meskipun untuk kisah ini posisi dolop adalah jahat namun pengertian dolop bukanlah sesuatu yang jahat dan salah. Mereka hanya bagian dari marketing seperti halnya bintang iklan maupun Sales Promotion Girl.

Istilah dolop sendiri pertama kali saya dapat dari Sridewa seorang MC kondang dari acara Musicorner yang dibikin anak-anak Elektro UGM 2000. "Pokoke dolope kudu akeh cah, ben rame," kata Sridewa. Dan syukurlah anak-anak 2001 dan 2002 dengan sukarela menjadi dolop. Setiap kali grup musik tampil mereka siap mengibarkan spanduk, berjoget, dan meniup peluit sehingga suasana yang hanya dihadiri 600-800an orang tersebut bisa sedemikain riuh rendah bak pertandingan Liga Champion. Pada pertunjukan tahun baru 2005 di Fisika MIPA UGM, kembali jasa dolop saya gunakan untuk meramaikan pertunjukan musik yang hanya dihadiri beberapa puluh orang saja. Dolop saya yang paling setia waktu itu adalah sepasang kekasih yang baru jadian yaitu Oming dan kekasihnya <A*L*N>.

Pada dasarnya penggunaan dolop untuk kepentingan marketing atau sekadar meramaikan suasana adalah hal yang wajar. Dengan demikian apabila anda pada saat ini sedang mulai membuka usaha dan kurang begitu ramai diminati oleh masyarakat maka tidak ada salahnya menggunakan jasa dolop. Jika anda masih ragu apakah dolop itu dosa atau tidak maka sebaiknya perlu dipikirkan bagaimana supaya dolopan anda itu semata-mata hanya menjaring pelanggan bukan untuk menipu pelanggan.

Saya Anton Dewantoro pada Marketing Focus. Untuk informasi training dan seminar hubungi anton_dewantoro@yahoo.co.id atau chatting dengn ID YM "ybaton" sampai jumpa

Kekerasan dan Kemalasan

March 28th, 2007 by anton-dewantoro

“Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog.”–Khaled Abou El Fadl

Wah…wah…wah rasanya kali ini saya benar tertampar. Jadi jelas sudah kenapa selama ini saya cukup permisif dengan kekerasan dan toleran dengan kemalasan. Inilah autokritik yang perlu kiranya saya sampaikan.

Saya kurang sering bergumul dengan karunia akal yang dianugerahkan kepada saya. Hal-hal yang menuntut penggunaan akal justru kerap saya hindari sementara yang tidak masuk akal justru saya tumbuh-kembangkan dalam pikiran.

Belajar, banyak sekali hal yang bisa saya pelajari setiap saat di sekitar saya namun saya lebih memilih tidur atau menonton TV yang isinya mayoritas kekerasan dan ajakan untuk menjadi manusia konsumtif. Menempa diri dengan belajar, makin jarang saja saya lakukan sementara itulah satu-satunya senjata saya untuk bisa bertahan hidup di jaman yang senatiasa berubah ini.

Menganalisis persoalan dengan cermat, hmmm…kerap kali saya justru menganggap enteng persoalan-persoalan serius yang pemahaman dan penyelesaiannya memerlukan analisis yang cermat.

Berargumen dan berdialog, saya lebih sering diam dan menggerutu di belakang  dalam setiap diskusi. Mungkin karena terbiasa dengan kultur pengecut yang tidak berani secara langsung berhadapan dengan lawan meskipun hanya dalam taraf dialog, saya tidak mampu berargumen dengan tepat dengan menggukan alasan yang tepat dan logis.

Mudah-mudahan kesadaran ini awal dari sebuah tindakan. Tindakan untuk senantiasa memperbaiki dan memperbarui diri. SEMPER REFORMANDA

MATI

March 21st, 2007 by anton-dewantoro

A: Why do people have to die?

B: To make life important. None of us know how long we’ve got. Which is why we have to make each day matter.

—Six Feet Under–

Banyak orang yang takut menghadapi kematian. dan memang ini wajar. Takut meninggalkan orang-orang yang dicintai, takut meninggalkan setumpuk utang, takut meninggalkan pekerjaan yang belum terselesaikan. Tapi kematian itu tak bisa ditolak.

Kematian adalah bagaian yang mungkin paling penting dalam hidup. Bayangkan saja kalau pertandingan sepakbola tidak dibatasi 2X45menit. Tentu setiap pemain tidak berusaha sebaik-baiknya untuk kemenangan tim dalam waktu yang ditentukan. Demikian juga dengan kehidupan manusia. Hanya saja kita tidak tahu kapan peluit panjang kita masing2 dibunyikan..

Mengisi hidup sebaik-baiknya. Sepertinya mudah saja diucapkan. Tapi saya sendiri seringkali hanya membiarkan hari ke hari berlalu begitu saja. Minggu demi minggu hanya sebatas menunggu hari libur. Bulan demi bulan hanya menunggu saat gajian. bagaimana dengan anda?