Archive for October, 2007

Pemerintah yang Gede Rasa (2)

Monday, October 15th, 2007

"Kala semanten sang nata sabarang karsanipun, ewah kaliyan adatipun, asring misesa tiyang, tansah nggelaraken siyasat. Para bupati, mantri, tuwin para sentana sami lampah alap-alapan ing kalenggahanipun, sakelangkung resah tataning negari. Tiyang Sa-Matawis sami miris manahipun, sarta asring grahana wulan tuwin srengenge; jawah salah mangsa, lintang kumukus ing saben dalu ketingal. Jawah awu utawi lindhu. Akathah delajat ingkang ketingal. Punika pratandanipun, yen nagari badhe risak…."
–Babad Tanah Jawi

Ketika itu, raja bertindak sesuka hati, tidak seperti biasanya. Ia kerap menyegsarai orang dan menggelar siasat. Para bupati, menteri dan kerabat istana berlaku serakah dalam kedudukannya. Tata kehidupan bernegara menjadi berantakan. Penduduk seluruh Mataram dirundung rasa takut. Sering terjadi gerhana bulan dan matahari. Hujan bukan pada musimnya. Bintang kemukus muncul tiap malam. Hujan abu dan gempa. Banyak pula meteor kelihatan. Itu semua pertanda negara akan rusak.

Pemerintah yang Gede Rasa (1)

Monday, October 15th, 2007

Kebangsaan Indonesia adalah ciptaan rakyat Indonesia, bukan ciptaan pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tinggal mewarisi saja dari rakyat. Tahun 1928, tujuh belas tahun sebelum kemerdekaan, beberapa pemuda yang kita tidak ingat lagi namanya atau anomimus, yang kita ingat salah satunya adalah W.R.Supratman dengan biolanya, menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Pada waktu itu, pemuda menyatakan prasetya, bahwa kami adalah satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, satu tanah air yaitu Tanah Air Indonesia, satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Kontan semua partai politik di Indonesia mengidentifikasikan dengan nama Indonesia.

Aneh, dan juga tiba-tiba Madjoindo, Marah Roesli mengarang dalam bahasa Indonesia, Armijn Pane dan Sanoesi Pane berkata Horas Bah, lalu mengarang dalam bahasa Indonesia. J.E.Tatengkeng orang Sangir, menulis dalam bahasa Indonesia. M.R.Dayoh menulis dalam bahasa Indonesia. Ki Panji Tisna mengarang novel dalam bahasa Indonesia. Gesang membuat lagu Bengawan Solo dalam bahasa Indonesia. Tiba-tiba saja itu diterima sebagai bahasa nasional. Padahal, Pemerintah belum ada….

Tidak ada satu penguasa pun yang bisa mempersatukan. Sultan Agung yang namanya Agung, mempersatukan Jawa saja tidak bisa. Masuk Betawi saja tidak bisa, hanya sampai Matraman, Batavia. Sampai Belanda masuk tidak satu pun penguasa yang bisa mempersatukan ‘Indonesia’. Belanda pun tidak bisa….

…Tetapi bangsa Indonesia sendiri, bahkan yang anonimus bisa mengatakan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa dan partai-partai pun mengidentifikasikan Indonesia, lahir sastra Indonesia….

…itu dari rakyat. Pemerintah jangan gede rasa dan mengira tanpa pemerintah tidak ada persatuan dan kesatuan. Justru pemerintah yang mengacaukan rasa berbangsa.

–Orasi Kebudayaan oleh W.S.Rendra,
Pagelaran Keraton Yogyakarta, 20 Agustus 1998

Pengen Punya Rumah

Wednesday, October 3rd, 2007

Punya Rumah

Setelah punya rumah apa lagi cita-citamu?
Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat senja supaya saya
dan senja sempat minum teh di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,

uang makin banyak maunya, jalanan macet,
akhirnya pulang terlambat.
Seperti turis lokal saja, singgah menginap
di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.
                    –JOKO PINURBO

Rumah. Siapa tak memimpikan punya rumah? Di pinggiran kota Jakarta, di sebuah sudut yang asri, lingkungan bebas banjir, akses ke jalan tol, fasilitas penunjang lengkap. Atau sebuah rumah di wilayah barat Sleman yang masih bernuansa pedesaan, bebas gempa, kabut di pagi hari, suasana yang menenteramkan hati dan pikiran…. hmmm jutaan orang memimpikannya.

Tapi apa artinya semua itu kalau bahkan untuk sekedar melewatkan waktu tidur dengan cukup di rumah pun sulit, bercengkerama dengan anak dan istri merupakan kesempatan yang menjadi amat langka, televisi berbayar tidak tertonton, kolam renang tidak terceburi, hanya pembantu yang menjadi raja/ratu sepanjang hari di rumah kita.

Sayangnya saya pribadi sejak dulu memang bukan orang rumahan. Jadi tidak terlalu mengerti konsep dan cara pandang yang benar mengenai rumah. Bagaimana jika kelak saya memiliki rumah? Rumah seperti apa yang saya inginkan untuk tinggal? Berapa jam sehari saya bisa berada di dalamnya? Bagimana hubungan saya dengan penghuni-penghuninya yang notabene adalah keluarga yang kelak akan saya bangun? Bagaimana saya membangun hubungan dengan tetangga dan lingkungan sekitar? Sulit sekali bagi saya untuk membayangkan.

Rumah tetaplah suatu hal yang besar dalam hidup yang sulit untuk dibayangkan, terlebih lagi untuk dibeli, dan bahkan juga termasuk untuk ditinggali dengan benar.
Bagaimana dengan anda?

Asal-Usul Paskah

Monday, October 1st, 2007

PASKAH

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya membawa celana
yang dijahitnya sendiri

"Pas kah?" tanya Maria
"Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

            Joko Pinurbo