Sedikit oleh-oleh dari Jogja. Jogja, kota dengan budaya adiluhung, kota pelajar dan kaum intelektual. Nah tulisan kali ini juga tentang seorang intelektual yang menobatkan diri sebagai pakar multimedia dan telematika dan bukan kebetulan juga beliau ini seorang dari kalangan priyayi, sebut saja tokoh kita kali ini Raden Mas R.S. Mungkin kalau terdapat kemiripan nama atau gelar maka hal itu hanya kebetulan semata.
Begini ceritanya, beberapa waktu yang lalu ketika prahara angin topan puting beliung melanda kawasan Lempuyangan Yogyakarta kawan saya Dono Sumardjikoen beserta kru dari 0-0 media baru saja selesai melakukan shooting video dan kebetulan lewat tak jauh dari pusat angin puting beliung. Seperti lazimnya kameramen, peristiwa semacam puting beliung, terlebih yang terjadi di depan mata, tentu tidak akan dilewatkan begitu saja dengan terperangah atau sibuk menyelamatkan diri. Dengan gagah berani Dono, Bimbim, Subur, dan Klowor merekam kejadian tersebut dan terus mengikuti kemana pusaran angin maut tersebut bergerak menerbangkan genting, atap seng, maupun papan baliho. Dan demikianlah terbikinlah video angin puting beliung yang memiliki nilai sangat tinggi berkat momen yang tepat.
Bimbim sebagai team leader mereka segera menghubungi pihak televisi karena dia menilai masyarakat perlu tahu bagaimana dahsyatnya angin tersebut melanda sementara soal uang bukanlah tujuan utama. Adalah stasiun berita Katro TV dan Perkutut Citra Televisi Indah (PCTI) yang segera merespon pemberitahuan Bimbim tersebut. Kedua koresponden baik dari Katro TV maupun PCTI segera melakukan penawaran harga dan uniknya keduanya memberi harga yang kompak yaitu 300 ribu rupiah namun keduanya tetap saling tarik-ulur mengenai hak siar video tersebut. Tentang harga yang sedemikian rendah, para koresponden berdalih bahwa video semacam itu hanya memiliki rating kelas 3 (video berita pinggiran) yang sebenarnya terungkap kemudian layak mendapat rating kelas 1 karena muncul di Headline News dan berkali-kali diputar selama berhari-hari. Tentang harga 300 ribu rupiah tersebut juga agak aneh karena informasi dari pusat Katro TV yang datang kemudian menyatakan bahwa mereka akan membayar 500 ribu rupiah untuk penayangan video tersebut. Sepertinya telah terjadi semacam kecurangan oleh para koresponden lokal tentang harga video tersebut. Karena itulah Bimbim dkk memutuskan untuk tidak menjual video itu kepada koresponden televisi mana pun.
Karena tidak ingin lebih jauh pusing tentang deal-deal komersial yang tampaknya berbau kecurangan, maka Bimbim mendatangi seorang pakar Multimedia dan Telematika, Raden Mas R.S. dengan harapan beliau akan tahu tindakan apa yang tepat menyangkut video angin puting beliung tadi. Menurut Raden Mas R.S. ada baiknya jika video tersebut dipakai untuk kepentingan edukasi dan sosial dan untuk kepentingan itu biar Sang Raden Mas sebagai seorang pakar dan juga priyayi yang mengerjakannya. Dan demikianlah dengan polosnya serta penuh kepercayaan, Bimbim menyerahkan copy video tersebut tanpa suatu syarat apa pun dengan harapan bisa memberi manfaat kepada orang banyak.
Bagaikan petir yang menyambar kepala mereka, beberapa saat kemudian video tersebut ternyata ditayangkan di Headline News Katro TV dengan nama pengirim Raden Mas R.S. Ternyata Raden Mas R.S. yang kebetulan juga host di sebuah acara teknologi di televisi tersebut telah menjual video tersebut lewat jalan belakang dan bukan hanya itu dia terang-terangan telah merampas hak cipta video dengan memampang namanya. Pada akhirnya memang Ia meminta maaf kepada Bimbim dan pada penayangan hari berikutnya video tersebut diubah tulisannya menjadi "Video Kiriman Raden Mas R.S. dan Bimbim". Namun nasi telah menjadi bubur, kecurangan besar oleh orang besar telah terjadi.
Mungkin memang sudah demikian adanya watak priyayi yang selalu berusaha merampas dari yang lebih jelata guna kemahsyuran namanya. Dan mungkin memang sudah sifat orang kecil di negeri ini untuk juga mengecilkan segala yang melekat padanya termasuk karyanya besarnya sendiri sehingga dia merasa lebih baik dirampas oleh priyayi daripada dibeli secara curang oleh sesama orang kecil. Nampaknya memang jurang antara Priyayi dan Kawula masih juga lebar di jaman serba egaliter seperti saat ini.