Archive for April, 2007

Tentang Tidur

Sunday, April 22nd, 2007

Don’t Stay in Bed,
Unless you can make money in bed–George Burns

Entah Siapa George Burns itu yang jelas kata-kata diatas saya kutip dari game Lemonade Tycoon yaitu permainan komputer ringan yang intinya adalah mendirikan kerajaan bisnis es limun (terjemahan lemonade setahu saya masih limun dan bukan lemon). Game tersebut memang tidak terlalu menarik namun cukup bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana mengusahakan penjualan es limun mulai dari usaha di sekitar rumah hingga merajai seluruh kota.

Memang benar bahwa tidur adalah kebutuhan pokok manusia yang pemenuhannya bersifat mutlak. Kekurangan tidur beberapa jam saja bisa mengganggu seluruh aktivitas pada hari berikutnya dan jika masalah tidur tidak dapat segera diatasi bukan tidak mungkin penyakit pun siap menghampiri. Namun terlalu banyak di tempat tidur juga sangat tidak produktif, badan menjadi kaku, kreativitas beku, dan membuat kita hanya bermimpi saja.

Kecuali jika kita memang bisa mendapatkan uang dari tempat tidur,maka tak ada alasan bagi kita untuk berlama-lama bergumul dengan tempat tidur. Meskipun kita tahu pada kenyataannya ada orang-orang tertentu yang uangnya bertambah banyak justru jika dia semakin sering tidur (mungkin tidur dalam tanda kutip).

Jadi masih adakah alasan untuk tetap berlama-lama tidur tanpa mengerjakan sesuatu yang berarti? Bagi saya susah juga untuk menjawabnya, lha wong saya ini paling suka tidur jhe.

Tugas HIdup

Tuesday, April 17th, 2007

Apa pun tugas hidup anda, lakukan dengan baik. Seseorang semestinya melakukan pekerjaannya sedemikian baik sehingga mereka yang masih hidup, yang sudah mati, dan yang belum lahir tidak mampu melakukannya lebih baik lagi. (Martin Luther King)

Wow betapa berat tugas hidup kita. Melakukan yang terbaik sehingga semua yang masih hidup, yang sudah mati, dan belum lahir tidak mampu melakukan tugas hidup kita dengan lebih baik lagi.

Mungkin memang semangat yang demikian yang melandasi para inovator. Bayangkan saja jika Edison menyerah, tentu bukan dia yang akan mendapat kehormatan sebagai penemu bola lampu yang akan selalu diingat oleh semua orang sepanjang masa. Mungkin dunia perlu menunggu beberapa generasi lagi untuk bisa menikmati cahaya buatan di malam hari. Betapa pun kecilnya tugas hidup kita perlu kiranya dilakukan sebaik mungkin sehingga dunia tidak perlu menanti beberapa generasi lagi supaya tugas itu terselesaikan.

Abad ini sebenarnya abad terbaik untuk berkembang bagi semua orang. Belum pernah ada masa dimana orang golongan paling bawah pun bisa menapaki kelas sosial yang semakin horisontal saja. Dunia semakin egaliter. Posisi wanita dan pria hampir sejajar di semua bidang kehidupan. Informasi dan pengetahuan dari seluruh dunia semakin mudah diperoleh dan bertukar.

Jika masih ada yang mengatakan ini adalah jaman sulit mungkin orang tersebut cukup malas untuk melihat peluang yang ada dimana-mana. Memang di sana sini masih ada masalah sosial, kesehatan, kesewenang-wenangan, dan segala keburukan lain. Namun demikian jika kita tinjau kuantitasnya tentu sudah banyak turun dibandingkan abad-abad sebelumnya. Percayalah bahwa saat ini dan kondisi seperti inilah yang paling kita butuhkan untuk maju.

Jadi…sudahkan anda menemukan tugas hidup anda?

Mentalitas Priyayi versus Kawula

Wednesday, April 11th, 2007

Sedikit oleh-oleh dari Jogja. Jogja, kota dengan budaya adiluhung, kota pelajar dan kaum intelektual. Nah tulisan kali ini juga tentang seorang intelektual yang menobatkan diri sebagai pakar multimedia dan telematika dan bukan kebetulan juga beliau ini seorang dari kalangan priyayi, sebut saja tokoh kita kali ini Raden Mas R.S. Mungkin kalau terdapat kemiripan nama atau gelar maka hal itu hanya kebetulan semata.

Begini ceritanya, beberapa waktu yang lalu ketika prahara angin topan puting beliung melanda kawasan Lempuyangan Yogyakarta kawan saya Dono Sumardjikoen beserta kru dari 0-0 media baru saja selesai melakukan shooting video dan kebetulan lewat tak jauh dari pusat angin puting beliung. Seperti lazimnya kameramen, peristiwa semacam puting beliung, terlebih yang terjadi di depan mata, tentu tidak akan dilewatkan begitu saja dengan terperangah atau sibuk menyelamatkan diri. Dengan gagah berani Dono, Bimbim, Subur, dan Klowor merekam kejadian tersebut dan terus mengikuti kemana pusaran angin maut tersebut bergerak menerbangkan genting, atap seng, maupun papan baliho. Dan demikianlah terbikinlah video angin puting beliung yang memiliki nilai sangat tinggi berkat momen yang tepat.

Bimbim sebagai team leader mereka segera menghubungi pihak televisi karena dia menilai masyarakat perlu tahu bagaimana dahsyatnya angin tersebut melanda sementara soal uang bukanlah tujuan utama. Adalah stasiun berita Katro TV dan Perkutut Citra Televisi Indah (PCTI) yang segera merespon pemberitahuan Bimbim tersebut. Kedua koresponden baik dari Katro TV maupun PCTI segera melakukan penawaran harga dan uniknya keduanya memberi harga yang kompak yaitu 300 ribu rupiah namun keduanya tetap saling tarik-ulur mengenai hak siar video tersebut. Tentang harga yang sedemikian rendah, para koresponden berdalih bahwa video semacam itu hanya memiliki rating kelas 3 (video berita pinggiran) yang sebenarnya terungkap kemudian layak mendapat rating kelas 1 karena muncul di Headline News dan berkali-kali diputar selama berhari-hari. Tentang harga 300 ribu rupiah tersebut juga agak aneh karena informasi dari pusat Katro TV yang datang kemudian menyatakan bahwa mereka akan membayar 500 ribu rupiah untuk penayangan video tersebut. Sepertinya telah terjadi semacam kecurangan oleh para koresponden lokal tentang harga video tersebut. Karena itulah Bimbim dkk memutuskan untuk tidak menjual video itu kepada koresponden televisi mana pun.

Karena tidak ingin lebih jauh pusing tentang deal-deal komersial yang tampaknya berbau kecurangan, maka Bimbim mendatangi seorang pakar Multimedia dan Telematika, Raden Mas R.S. dengan harapan beliau akan tahu tindakan apa yang tepat menyangkut video angin puting beliung tadi. Menurut Raden Mas R.S. ada baiknya jika video tersebut dipakai untuk kepentingan edukasi dan sosial dan untuk kepentingan itu biar Sang Raden Mas sebagai seorang pakar dan juga priyayi yang mengerjakannya. Dan demikianlah dengan polosnya serta penuh kepercayaan, Bimbim menyerahkan copy video tersebut tanpa suatu syarat apa pun dengan harapan bisa memberi manfaat kepada orang banyak.

Bagaikan petir yang menyambar kepala mereka, beberapa saat kemudian video tersebut ternyata ditayangkan di Headline News Katro TV dengan nama pengirim Raden Mas R.S. Ternyata Raden Mas R.S. yang kebetulan juga host di sebuah acara teknologi di televisi tersebut telah menjual video tersebut lewat jalan belakang dan bukan hanya itu dia terang-terangan telah merampas hak cipta video dengan memampang namanya. Pada akhirnya memang Ia meminta maaf kepada Bimbim dan pada penayangan hari berikutnya video tersebut diubah tulisannya menjadi "Video Kiriman Raden Mas R.S. dan Bimbim". Namun nasi telah menjadi bubur, kecurangan besar oleh orang besar telah terjadi.

Mungkin memang sudah demikian adanya watak priyayi yang selalu berusaha merampas dari yang lebih jelata guna kemahsyuran namanya. Dan mungkin memang sudah sifat orang kecil di negeri ini untuk juga mengecilkan segala yang melekat padanya termasuk karyanya besarnya sendiri sehingga dia merasa lebih baik dirampas oleh priyayi daripada dibeli secara curang oleh sesama orang kecil. Nampaknya memang jurang antara Priyayi dan Kawula masih juga lebar di jaman serba egaliter seperti saat ini.

GODVERDOME KOWE ORANG !

Sunday, April 1st, 2007

Budha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva yang tertinggi diantara dewa-dewa. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan. –Mpu Tantular.

Apa sebabnya dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah suku Jawa melebihi daripada suku-suku lain di nusantara ini? Mengapa jawa memiliki latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan kebudayaan lebih banyak pada suatu kurun sejarah tertentu? Malah dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa eropa tertentu dalam bidang tertentu? Pada abad keempatbelas orang jawa sudah biasa menuliskan puisi pada daun lontar sementara sebagian besar orang Eropa masih buta huruf. Mengapa juga pusat kekuasaan nasional semenjak jaman Belanda sampai sekarang selalu dipusatkan di Jawa? Tidakkah hal semcam ini menggelitik pemikiran anda?

Konon penyebabnya justru sifat bangsa Jawa yang selalu mencari kesamaan, keselarasan, dan melupakan perbedaan untuk menghindari bentrokan sosial. Sifat untuk selalu sinkron ini terkadang sampai tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannya Jawa justru sering jatuh pada satu kompromi ke kompromi lain sampai kehilangan prinsip-prinsip. Jawa lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip.

Watak serba disesuaikan itu muncul karena perang yang tidak berkesudahan. Perdamaian dinilai lebih penting sehingga prinsip pun ditinggalkan. Sampai ke ranah paling pribadi yaitu agama terdapat pula kompromi. Dua agama besar pada masa Hayam Wuruk yaitu Hindu dan Budha dipersatukan dan dikompromikan oleh dua konseptor kenegaraan yaitu Mpu Tantular dan Mpu Prapanca demi perdamaian. Samapai sekarang pun orang Jawa masih sering kebingungan jika diminta membedakan keduanya. Begitu juga waktu masuknya Islam, orang masih mencari-cari kesamaan antara Shiva-Budhisme dengan Islam.

Karena selama berabad-abad terbiasa meninggalkan prinsip, ketika bangsa Eropa yang telah maju namun memegang teguh prinsip masuk ke Jawa, tergilaslah bangsa Jawa. Orang Eropa lebih kecil jumlahnya namun menang karena prinsip.

Pada masa kini, watak tanpa prinsip orang Jawa, yang rupanya telah menjalar ke suku-suku lain pula, telah menjadikan bangsa ini kehilngan ciri dan kepercayaan diri sebagai bangsa. Adakah diantara anda yang percaya jika bangsa Indonesia ini benar-benar menjadi bangsa yang terkemuka karena maju di semua bidang? Yakinkah anda jika bangsa ini suatu saat nanti tidak hanya menjadi pemain pinggir namun menentukan perkembangan seluruh peradaban umat manusia? Kalaupun bisa, apa yang akan kita tawarkan kepada bangsa lain? Bahkan prinsip pun kita tidak punya. Godverdomme kowe orang!