Archive for March, 2007

MARKETING IN DOLOP

Wednesday, March 28th, 2007

"Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntunganya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari permata, apa pun yang kau inginkan, tidak dapat menyamainya"–Alkitab,AMSAL 3:13-15

Belakangan ini saya agak tertarik dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan keuangan dan perekonomian. Apakah ini adalah tanda-tanda saya akan segera menggantikan Hermawan Kartajaya? Ah, yang pasti ini akibat dari banyak bergaul dengan Dody Wijaya si pakar Reksadana dan ORI.

Pernahkah anda perhatikan bagaimana grup waralaba Bread Talk dan JCo Donuts memulai membuka usahanya di suatu tempat? Pada umumnya kita mendapatkan suguhan antrian panjang manusia dari yang cantik sampai yang katrok. Hal ini saya saksikan sendiri ketika JCo donut pertama kali dibuka di Plaza Semanggi dan Bread Talk dibuka di Plaza Ambarukmo Jogja. Antrian yang panjang tersebut sungguh mengundang penasaran setiap orang yang lewat untuk ikut memperpanjang antrian alias menjadi konsumen. Namun apa yang terjadi setelah beberapa saat berselang? Panjang antrian di kedua tempat tersebut ternyata berkurang sementara jumlah servernya tetap, berarti menurut Erlang ada penurunan trafik alias pelanggan berkurang. Akan tetapi ternyata bahwa jumlah pelanggan mereka justru bertambah. Lantas kemanakah para pengantri yang ramai saat kedua gerai makanan tadi dibuka? Konon mereka ini sengaja dijejerkan di antrian dan bertingkah seolah-olah seperti konsumen.

Konsumen aspal yang sengaja didatangkan untuk meramaikan suasana transaksi sebenarnya bukan hal baru dan monopoli orang kota saja. Kejadian yang serupa terjadi pula di sebuah kota kecil di tengah-tengahnya Jawa Tengah, Muntilan. Kisah ini menimpa ayah dari rekan saya Teguh (mari kita sebut saja Papa T Guh) yang bermaksud membeli burung di pasar Muntilan. Alkisah di sebuah kios burung Papa T Guh tertarik pada kerumunan orang yang merubungi seekor burung penyayi yang dari kejauhan memang terdengar merdu. Karena terpesona oleh merdunya suara burung, yang ternyata hanya siulan dari salah seorang di kerumunan, dan testimoni dari "calon-calon customer" lain maka ketika si penjual memberi banderol harga 60 ribu rupiah kontan saja burung tersebut dibayar. Namun begitu sampai dirumah, burung tersebut tidak dapat bernyayi karena ternyata burung tersebut berjenenis kelamin betina yang memang tidak bisa bernyanyi seperti yang jantan. Akhirnya burung tersebut terpaksa di jual lagi namun hanya laku sembilan ribu rupiah saja. Dolop, begitulah sebutan untuk orang-orang yang bertugas meramaikan suasana transaksi di pasar-pasar tradisonal. Meskipun untuk kisah ini posisi dolop adalah jahat namun pengertian dolop bukanlah sesuatu yang jahat dan salah. Mereka hanya bagian dari marketing seperti halnya bintang iklan maupun Sales Promotion Girl.

Istilah dolop sendiri pertama kali saya dapat dari Sridewa seorang MC kondang dari acara Musicorner yang dibikin anak-anak Elektro UGM 2000. "Pokoke dolope kudu akeh cah, ben rame," kata Sridewa. Dan syukurlah anak-anak 2001 dan 2002 dengan sukarela menjadi dolop. Setiap kali grup musik tampil mereka siap mengibarkan spanduk, berjoget, dan meniup peluit sehingga suasana yang hanya dihadiri 600-800an orang tersebut bisa sedemikain riuh rendah bak pertandingan Liga Champion. Pada pertunjukan tahun baru 2005 di Fisika MIPA UGM, kembali jasa dolop saya gunakan untuk meramaikan pertunjukan musik yang hanya dihadiri beberapa puluh orang saja. Dolop saya yang paling setia waktu itu adalah sepasang kekasih yang baru jadian yaitu Oming dan kekasihnya <A*L*N>.

Pada dasarnya penggunaan dolop untuk kepentingan marketing atau sekadar meramaikan suasana adalah hal yang wajar. Dengan demikian apabila anda pada saat ini sedang mulai membuka usaha dan kurang begitu ramai diminati oleh masyarakat maka tidak ada salahnya menggunakan jasa dolop. Jika anda masih ragu apakah dolop itu dosa atau tidak maka sebaiknya perlu dipikirkan bagaimana supaya dolopan anda itu semata-mata hanya menjaring pelanggan bukan untuk menipu pelanggan.

Saya Anton Dewantoro pada Marketing Focus. Untuk informasi training dan seminar hubungi anton_dewantoro@yahoo.co.id atau chatting dengn ID YM "ybaton" sampai jumpa

Kekerasan dan Kemalasan

Wednesday, March 28th, 2007

“Tindak kekerasan adalah bentuk lain dari kemalasan. Ia digunakan oleh orang-orang yang tidak mau bergumul dengan karunia akalnya. Mereka enggan menempa diri dengan belajar, menganalisis persoalan secara cermat, berargumen, apalagi berdialog.”–Khaled Abou El Fadl

Wah…wah…wah rasanya kali ini saya benar tertampar. Jadi jelas sudah kenapa selama ini saya cukup permisif dengan kekerasan dan toleran dengan kemalasan. Inilah autokritik yang perlu kiranya saya sampaikan.

Saya kurang sering bergumul dengan karunia akal yang dianugerahkan kepada saya. Hal-hal yang menuntut penggunaan akal justru kerap saya hindari sementara yang tidak masuk akal justru saya tumbuh-kembangkan dalam pikiran.

Belajar, banyak sekali hal yang bisa saya pelajari setiap saat di sekitar saya namun saya lebih memilih tidur atau menonton TV yang isinya mayoritas kekerasan dan ajakan untuk menjadi manusia konsumtif. Menempa diri dengan belajar, makin jarang saja saya lakukan sementara itulah satu-satunya senjata saya untuk bisa bertahan hidup di jaman yang senatiasa berubah ini.

Menganalisis persoalan dengan cermat, hmmm…kerap kali saya justru menganggap enteng persoalan-persoalan serius yang pemahaman dan penyelesaiannya memerlukan analisis yang cermat.

Berargumen dan berdialog, saya lebih sering diam dan menggerutu di belakang  dalam setiap diskusi. Mungkin karena terbiasa dengan kultur pengecut yang tidak berani secara langsung berhadapan dengan lawan meskipun hanya dalam taraf dialog, saya tidak mampu berargumen dengan tepat dengan menggukan alasan yang tepat dan logis.

Mudah-mudahan kesadaran ini awal dari sebuah tindakan. Tindakan untuk senantiasa memperbaiki dan memperbarui diri. SEMPER REFORMANDA

MATI

Wednesday, March 21st, 2007

A: Why do people have to die?

B: To make life important. None of us know how long we’ve got. Which is why we have to make each day matter.

—Six Feet Under–

Banyak orang yang takut menghadapi kematian. dan memang ini wajar. Takut meninggalkan orang-orang yang dicintai, takut meninggalkan setumpuk utang, takut meninggalkan pekerjaan yang belum terselesaikan. Tapi kematian itu tak bisa ditolak.

Kematian adalah bagaian yang mungkin paling penting dalam hidup. Bayangkan saja kalau pertandingan sepakbola tidak dibatasi 2X45menit. Tentu setiap pemain tidak berusaha sebaik-baiknya untuk kemenangan tim dalam waktu yang ditentukan. Demikian juga dengan kehidupan manusia. Hanya saja kita tidak tahu kapan peluit panjang kita masing2 dibunyikan..

Mengisi hidup sebaik-baiknya. Sepertinya mudah saja diucapkan. Tapi saya sendiri seringkali hanya membiarkan hari ke hari berlalu begitu saja. Minggu demi minggu hanya sebatas menunggu hari libur. Bulan demi bulan hanya menunggu saat gajian. bagaimana dengan anda?