Sukses
Sunday, February 25th, 2007"Itu Kamar Bola De Harmonie, tempat pembesar-pembesar bersenang-senang, Nyo. Tidak sembarang orang bisa masuk. Paling tidak orang harus bergaji dia atas empat ratus gulden. Biar lahir sampai dua setengah kali, jumlah sebanyak itu tak bakal kita orang bisa lihat."
"Empat Ratus Gulden,Oma! dan seluruh kekayaanku sekarang tidak lebih dari seratus tujuh puluh gulden sekian sen. Buat apa saja empat ratus gulden setiap bulan? Setiap bulan bisa beli lebih dari tiga sepeda sekaligus! Sisanya masih bisa untuk hidup sebulan penuh!" Kereta pun sampai ke Weltevreeden, Gambir, demikian orang Betawi menyebutnya.-JEJAK LANGKAH
"Kalo kerja di sana bisa dapet dua puluh juta sebulan? Bego’ amat sih lu kenapa ga’ pindah kerja aja?",kata teman saya.
Saya menjawab,"Lha saya emang bodo dan bingungan jhe, mau gimana lagi?"
Lagipula kalau saya punya gaji 20 juta per bulan maka tiap bulan saya bisa membeli setidaknya 5 buah vespa dan sisanya masih cukup untuk hidup layak di Jakarta <he..he..gw ga’ se-bego’ itu kalee>
Memang setiap orang mengukur kesuksesan dengan cara beragam. Ada yang menganggap diri sukses apabila memiliki gaji di atas dua digit jutaan sehingga dalam bekerja hanya mengejar kenaikan gaji dan siap menjadi kutu loncat jika ada perusahaan yang menawarkan gaji lebih besar. Di sisi lain banyak juga yang mengukur kesuksesan dengan cukup konyol yaitu bisa pulang membawa sepeda motor ke kampung setelah setahun bekerja di kota meskipun mungkin motor tersebut hanya kredit dan terpaksa "dipulangkan" ke tangan dealer setelah lebaran.
Tiap orang tentu punya cita-cita dan ukuran kesuksesan tertentu. Ada yang mengukurnya lewat materi, tingkat pendidikan, kekuasaan, dan sebagainya. Namun kalau menurut saya sukses itu ketika saya berhasil membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Lebih baik lagi jika bisa dikenang untuk waktu yang lama. Mungkin bukan suatu mahakarya besar namun hal-hal kecil yang bisa dikenang. Saya terkadang iri dengan para seniman, pengrajin, pekerja, atau insinyur yang berhasil membuat sesuatu yang berguna. Artinya mereka sering mendapat sukses untuk setiap karya yang mereka ciptakan. Apakah saya sudah menciptakan hal-hal semacam itu?
Kadangkala banyak orang yang entah karena tidak dapat mewujudkan kesuksesan atau karena memang tidak punya cita-cita menjadikan hidup semata-mata untuk mengejar gaya hidup, nongkrong di pusat perbelanjaan ternama, masuk ke klub-klub terbaik, naik mobil termewah, dan sebagainya. Saya sendiri bertanya-tanya, apakah hidup saya benar-benar tengah menuju ke kesuksesan atau sekadar mendekatkan diri ke gaya hidup yang boros dan kurang bermanfa’ad?
Bagaimana dengan anda?