Voyages et Aventures du Anton Dewantoro aux Petite Jave
Monday, January 15th, 2007Kalo orang in the year two thousand and seven nggak bisa basa inggris, sama aja buta huruf - Tukul Arwana
Ah Tukul kok dijadikan acuan, cukuplah dia menjadi tontonan lawak menjelang tidur. Biarpun saya sedikit-sedikit bisa berbahasa Inggris, setidaknya tidak gagap ketika berbicara dengan orang asing, saya lebih menyukai bahasa Indonesia untuk keperluan tulis-menulis. Sementara, untuk keperluan ngomong sehari-hari saya lebih suka bahasa Jawa apabila memungkinkan. Kalau bukan kita orang Indonesia lantas siapa lagi yang berkewajiban menyukai menulis dalam bahasa turunan Melayu tersebut. Kata orang Perancis yang pernah mendarat di Aceh tahun 1600-an, bahasa Melayu itu indah, mudah, dan bersifat universal seperti bahasa Latin di Eropa. Nah kalau soal berbicara bahasa Jawa, semata-mata karena urusan kenyamanan lidah dimana saya menghabiskan sebagian besar hidup saya di Yogyakarta yang Jawa banget. Susah bagi saya berbicara Indonesia dengan logat yang benar (baca: tidak medog) meskipun sudah setahun lebih saya tinggal di tanah Betawi.
Ngomong-ngomong soal orang Perancis yang mendarat di Aceh saya jadi berpikir-pikir apa yang menjadi motivasi mereka sampai menempuh lautan bahaya ribuan mil yang waktu itu dijaga ketat oleh raja-rajanya lautan seperti Spayol, Portugis, Inggris, dan Belanda yang selalu siap memuntahkan isi meriam mereka bagi setiap kapal yang diduga kuat bakal jadi saingan ekspansi. Ternyata orang-orang Pernacis itu berpedoman pada falsafah berikut: Untuk membangun kehidupan kita, sekolah kita yang paling baik adalah terus-menerus mengamati keberagaman hidup masyarakat lain dan mempelajari adat kebiasaan bangsa asing dalam keberagaman itu, terutama adat-istiadat yang amat berbeda dengan yang berlaku di belahan dunia kita, sebagai cara untuk menjauhkan diri dari kejahatan. Memang benar kalau kita terus menerus meyakini bahwa diri kita, bangsa kita, budaya kita sebagai yang paling luhur kita akan tenggelam dalam pemujaan diri yang sia-sia dan sulit mencapai kemajuan yang umumnya lebih sering dipicu karena melihat kemajuan orang lain. Jadi tidak heran kan kalau bangsa-bangsa Eropa lebih dahulu maju daripada kita karena mereka telah jauh-jauh hari sebelum kita mencari cakrawala baru dan mengambil sari pati kebijaksanaan bangsa lain untuk dipadukan dengan pencapaian mereka di berbagai bidang.
Waduh kok jadi berat tulisan saya ya. Padahal saya cuma mau pamer kalau dalam beberapa kesempatan yang lalu, sejak penghujung tahun 2006 sampai awal 2007, saya telah melakukan berbagai perjalanan ke beberapa penjuru tanah Jawa yang belum pernah saya injak sebelumnya. Perjalanan saya diawali ke gunug Gede di Jawa Barat. Gunung ini dinobatkan sebagai taman nasional dengan hutan terbaik di pulau Jawa. Di sepanjang perjalanan terdapat tempat-tempat yang bisa disinggahi seperti tempat pengamatan burung migrasi dimana tiap harinya ribuan burung dari berbagai kawasan Asia dan Australia melintasi wilayah ini, namun saya kok hanya menjumpai satu ekor yang menyerupai gagak yang menurut saya biasa-biasa saja. Ada juga air terjun Cibeureum yang beberapa saat lalu di junk-mail kantor diisukan berhantu namun sebenarnya memang terdapat batu besar yang menyerupai sosok manusia di balik air terjun tersebut. Sebelum mencapai air terjun tersebut terdapat telaga biru yang berisi ikan besar. Di dekat telaga tersebut terdapat sungai kecil yang airnya sangat sejuk untuk sekadar membasuh badan. Naik lagi beberapa kilometer terdapat sungai air panas yang menggoda untuk disentuh. Mulai dari sini jalanan mulai berkabut dan makin ke puncak kabut makin tebal. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya dikelilingi kabut yang amat tebal dan memang inilah kali pertama saya mendaki gunung jadi saya masih sangat heran dengan segala fenomena yang terjadi di atas gunung. Singkatnya, biarpun mendaki gunung sangat melelahkan dan bahkan kaki saya sempat terkiklir saat turun gunung, saya tidak kapok dan ingin mendaki gunung-gunung yang lain.
Berikutnya adalah perjalanan ke kawasan Jawa Tengah bagian timur laut seiring dengan ditugaskannya saya untuk beberapa saat ke wilayah itu. Di daerah sekitar Purwodadi saya melihat hal-hal yang baru juga yang sebelumnya belum pernah saya jumpai. Banyaknya penjual swike kodok merupakan hal yang cukup aneh bagi saya sebab di Jakarta maupun Jogja makan itu hanya bisa dijumpai di tempat-tempat khusus. Makanan olahan kodok baik di Indonesia maupun di Perancis merupakan hidangan yang lumayan mewah. Padahal jika menilik sejarahnya kodok pertama kali disantap di Cina karena keterpaksaan akibatnya kesulitan hidup. Orang Perancis membawanya ke Eropa dan mengemasnya sebagai suatu kemewahan hingga akhirnya keadaan justru berbalik, Kodok malah jadi hidangan istimewa di restoran Cina dan juga di banyak belahan dunia.
Fenomena alam yang cukup unik juga terdapat di kawasan Purwodadi yaitu Bledug Kuwu. Bledug Kuwu adalah sebuah lapangan seluas Gelora Bung Karno dimana secara periodis timbul letupan-letupan lumpur yang dulu konon bisa menyembur sampai belasan meter. Namun semenjak adanya bencana Lumpur Porong, Bledug Kuwu tidak pernah meletup lagi. Lantas apa keterkaitan kedua hal itu? Kawasan pantai utara Jawa mulai dari Tambun-Bekasi sampai Wunut-Sidoarjo (pada satu cabang) dan Bangkalan-Madura (pada cabang lainnya), merupakan daerah kaya minyak. Eksplorasi dan eksploitasi telah dilakukan di beberapa tempat dan sumber-sumber baru terus dicari untuk mencukupi kebutuhan akan energi. Namun sayangnya di sepanjang jalur itu pula terdapat fenomena mud-volcano yaitu letupan lumpur seperti Bledug Kuwu dan Porong. Mud-volcano terdapat juga di beberapa tempat lain seperti Mangkang Kulon-Semarang, Bledung Kesongan-Blora, Gunung Anyar dan Banjar Panji - Sidoarjo, dan Bangkalan-Madura. Di tempat-tempat tersebut semburan lumpur tidak seberapa besar dan kebetulan tidak ada kegiatan eksplorasi minyak tepat di titik mud-volcano, namun nasib Porong mungkin memang kurang beruntung sehingga fenomena mud-volcano yang dipicu juga oleh kegiatan eksplorasi yang kurang hati-hati oleh Lapindo menjadi sebuah bencana dahsyat.
Perjalanan berikutnya makin menuju ke peradaban modern yaitu Paris van Java, Bandung. Beribu cerita indah dari bapak, ibu, nenek dan teman-teman saya tentang kota itu telah mengisi kepala saya sejak lama namun baru setelah umur saya seperempat abad saya berhasil menginjakkan kaki ke kota kembang itu. Namun, mohon maaf warga Bandung, kota kembang ini menurut saya agak jauh dari indahnya kembang. Tapi kenapa dahulu Daendeles dengan isengnya menancapkan tongkat dan berkata, "Ketika saya kembali ke titik ini, sebuah pusat kota yang baru harus sudah berdiri di sini", dan jadilah Bandung modern seperti sekarang ini. Padahal Daendeles biasanya penuh perhitungan dalam membangun kota misalnya saat memindahkan pusat kota Jakarta dari kawasan Kota ke daerah Gambir dimana sampai sekarang Istana Negara RI masih berada di situ. Memang gadis-gadis bandung pada umumnya lebih modis bahkan jika dibandingkan gadis-gadis ibukota, tapi apakah memang hanya itu keindahan yang ada di Bandung? Yang pasti entah kenapa setiap teman yang bukan orang Bandung asli tapi pernah bersekolah di Bandung biasanya akan lebih sering pulang ke Bandung daripada ke kampungnya sendiri setiap kali ada kesempatan berlibur. Pasti masih ada pesona lain yang membuat Bandung (pernah) pantas menyandang gelar Parisnya pulau Jawa.
Ternyata di pulau yang saya pijak ini saja masih banyak tempat yang perlu saya jelajahi dan pelajari lebih lanjut. Banyak sekali kearifan alam maupun budaya lokal yang bisa disarikan dari Jawa Dwipa alias Tanah Beras ini yang mudah-mudahan bisa saya manfaatkan untuk membangun kehidupan saya dan juga orang banyak. Mudah-mudahan umur dan rejeki saya masih cukup banyak sehingga masih banyak pula perjalanan yang bisa lakukan di masa datang.
Desember 2006 - Januari 2007