Archive for November, 2006

BISUL ASMARA

Wednesday, November 22nd, 2006

Iku dudu Jerawat tapi bisul asmara–Dadang Nugroho

Aku tidak tahu bagaimana mulanya aku bisa memiliki jerawat. Apakah karena aku jarang membersihkan muka? Apakah karena produksi minyak berlebih? Apakah karena stress? Apakah karena keturunan? Sepertinya tidak ada satu pun penyebab yang cocok dan tidak ada satu pun penyembuhan yang ampuh. Pipi kiriku memang mulai jarang ditumbuhi jerawat, namun satu, dua, tiga "bisul asmara" itu kerap kali muncul di pipi kananku.

Ngomong-ngomong soal "bisul asmara", istilah itu diperkenalkan ke telingaku oleh Dadang Nughroho temanku KKN di dusun Kebon, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta tahun 2003 yang lampau. Dadang si pangeran dari khayangan (gunung kidul) memang kerap kali jadi bahan lawakan terlepas dari posisinya sebagai Kormanit (Koordinator Mahasiswa Unit). Kemanakah  gerangan kalian wahai teman-teman KKN? Bukankah kalian dulu banyak sekali dan akrab sekali? Apakah tidak ada yang ikutan Friendster atau sejenisnya?

Satria Jawa

Sunday, November 5th, 2006

Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya-BUMI MANUSIA

—–

"Kau tahu apa syarat-syarat satria Jawa?"
"Sahaya tidak tahu, Bunda."
"Husy, kau yang terlalu percaya pada segala yang serba Belanda. Lima syarat yang ada pada satria Jawa: wisma, wanita, turangga, kukila dan curiga (rumah, perempuan, kuda, burung dan keris). Bisa mengigat?"
"Tentu saja, Bunda, bisa."

"Dan kau tahu arti lambang-lambang apa itu?"

"Pertama, wisma, Gus, rumah. Tanpa rumah orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah, Gus, tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekadar alamat, Gus, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali. Kau sudah bosan?"
"Sahaya Mendengarkan."
Ia tarik kupingku.
"Sahaya dengarkan, Bunda, sungguh."

"Kedua wanita, Gus. tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekadar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti itu juga kau harus pandang ibumu yang sudah tua ini, dan berdasarkan itu pula anak-anakmu yang perempuan nanti kau harus persiapkan."

"Orang Belanda tak tahu semua ini, Gus. Tapi kau harus tahu karena kau Jawa."

Ketiga turangga, Gus, kuda itu, dia alat yang mampu membawamu kemana-mana: ilmu, pengetahuan, kemampuan, ketrampilan, kebisaan, keahlian, dan akhirnya -kemajuan. Tanpa turangga takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.

Aku mengangguk-angguk menyetujui, mengerti itu juga kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman berabad. Hanya aku tak tahu siapa punya kebijaksanaan itu? Nenek-moyang atau bunda pribadi.

"Keempat kukila, burung itu, lambang keindahan, kelangenan (hobby), segala yang tak punya hubungan dengan peghidupan, hanya kepuasan batin pribadi. Tanpa itu orang hanya sebongkah batu tanpa semangat."

"Dan kelima curiga, keris itu, Gus, lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. tanpa keris yang empat akan bubar binasa bila mendapat gangguan."

——

Aku. Rumah tak punya, istri masih negosiasi, ilmu sangat minim, hobby mandeg, sementara kerisku cuma ada satu tumpul pula.  Bukankah semestinya aku juga bisa menjadi satria Jawa yang baik dan benar?