Within you, Without you - Sgt.Pepper’s Lonely Heart Club Band
Kesuksesan bersama seorang mitra sejati agaknya bisa memberi hasil yang lebih maksimal dibandingkan kesuksesan yang coba diraih sendiri. Jika kita mencoba meraih semuaya sendiri, maka kita memang membawa gagasan murni pribadi tanpa dicampuri oleh siapa pun. Namun demikian, kita juga maju bersama segala kekurangan yang kita miliki dan tak ada seorang pun yang menutup lubang kekurangan tersebut. Tidak ada pula mekanisme kontrol atau setidaknya sebuah peringatan dini di saat kita memulai sesuatu yang salah.
Adalah John Lennon dan Paul McCartney yang menjadi motor utama The betles yang selalu bersama dalam menciptakan lagu-lagu hits dan mengantarkan kelompok musik tersebut menjadi yang terbesar di abad ke-20. Di masa kini kita bisa juga melihat Sergey Brin dan Larry Page, dua orang mahasiswa Stanford, yang dengan suksesnya mendirikan Google dan membawanya menjadi mesin pencari paling terkemuka dan mampu menghasilkan banyak dollar setiap detiknya. Di Jogja saya mengenal Ogi dan Ayik dua orang penggila komputer yang bermitra cukup kental dalam mendirikan Jogja Camp dan tampaknya usaha mereka mulai menunjukkan hasil yang patut dibanggakan.
Kemitraan dalam mewujudkan sebuah gagasan, terutama jika gagasan tersebut besar dan mulia, sepertinya merupakan prasyarat mutlak. Sulit rasanya berjuang sendirian di tengah persaingan dunia yang semakin ganas ini. Tidak cukup satu kepala untuk memikirkan pengembangan ide dimana setiap saat semakin menuntut kerumitan yang makin tinggi, kesahihan yang makin terpercaya, kecepatan dan mutu, serta pemunculan gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Kita perlu melakukan semua itu dalam sebuah kelompok atau setidaknya bersama seorang tandem yang saling melengkapi.
Dulu sewaktu SMP saya pernah bercita-cita memiliki perusahaan sendiri dan sukses bersama perusahaan itu. Bersama dengan teman saya Agung Karuna (alm.)kami membuat perusahaan monyet bernama AUSTIN(karena cinta di usia itu juga disebut cinta monyet) yang merupakan kependekan dari Asal Untung Saya Tidak Ingin Nolak. Kami merekrut tiga orang gila lagi yaitu Andre, Uji, dan Dimas untuk bergabung dan mereka sangat antusias pula. Bidang usaha kami waktu itu adalah apa saja (dalam arti sesungguhnya) mulai dari pengadaan kaos, desain, sablon, membuat ayam goreng, dan menjual komponen elektronik. Namun hasilnya memang hanya merugi dan merugi sampai dituduh teman-teman menilep (menggelapkan uang pembayaran). Dan setelah kelas 3 SMP, kami semua kelelahan berwirausaha dan kegiatan kami akhirnya hanya seperti remaja-remaja lain yang sedang puber yaitu menggoda cewek-cewek adik kelas kami. Konyol memang, tapi pandangan untuk bermitra seperti yang pernah kami lakukan tentunya patut dicatat.
Sewaktu SMA saya ikut berbagai kegiatan namun sebagian besar waktu saya dihabiskan di teater. Di sanalah saya bertemu Kurnia seorang teman sekolah yang juga seorang aktor yang pernah diakui oleh dinas pendidikan kota Jogja sebagai aktor terbaik hingga dimuat di harian Kedaulatan Rakyat(sementara dia sendiri selalu marah kalau disebut aktor terbaik). Sampai ke bangku kuliah pertemuan saya dengan Kurnia selalu membawa saya ke dunia seni peran. Hingga suatu ketika dia bersama Cito dan Doni mendirikan Gubug Produksi Film bernama Cerya (karena kami merasa miskin untuk disebut rumah produksi) saya pun diajak untuk bergabung di dalamnya. Banyak ide yang ingin kami wujudkan bersama Gubug Produksi Cerya, namun karena pada akhirnya saya memilih bekerja "beneran" maka praktis saya telah pasif dari pembesaran wujud Gubug Produksi Cerya.
Kemitraan sejati memang bukan hal mudah untuk diwujudkan. Hal ini hampir mirip-mirip dengan pernikahan. Hanya saja dalam pernikahan ada dorongan biologis dan sosial yang teramat kuat sehingga kalau boleh saya katakan menikah itu lebih mudah daripada bermitra-usaha karena dalam kemitraan hanya konsistensi untuk mewujudkan sebuah gagasan sajalah modalnya. Ikatan emosional yang ada di dalam kemitraan kadang tidak terlalu kuat dan sering muncul pilihan-pilihan lain yang lebih menggiurkan yang kadang membuat kita mudah melepaskan komitmen dalam kemitraan.
Namun dari kegagalan-kegagalan saya dalam bermitra tersebut, saya tidak sedikit pun merasa surut untuk membentuk kemitraan baru atau mewujudkan ulang kemitraan lama yang pernah saya buat. Alih-alih kebingungan sendiri dengan kondisi saya sekarang yang serba mengambang, lebih baik mengumpulkan gagasan-gagasan baru dan mewujudkan semua itu dalam bentuk kemitraan.