Archive for September, 2006

BEKERJA, MENCINTAI, DAN MENARI

Friday, September 29th, 2006

Bekerja, Mencintai, dan Menari. Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton. (Mark Twain)

Tentang bekerja: saya berani mengatakan bahwa saya tidak bekerja untuk uang. Pada mulanya saya memang ingin mencari uang namun setelah mendapatkan uang yang lebih dari cukup (untuk ukuran saya lho ya) yang lebih saya inginkan adalah tidur dan tidur yang lama setelah bekerja seharian menatap layar (dan juga hampir semalaman) selama lima hari dalam seminggu (kadang weekend juga masuk). Masih sulit bagi saya untuk mengikhlaskan jam tidur saya dan menerimanya dengan penuh kebahagiaan. Saya masih sulit berdamai dengan jam tidur saya sendiri.

Tentang mencintai: Mulanya saya takut untuk memulai hubungan dengan seseorang yang baru karena takut ujung-ujungnya pahit seperti yang kemarin-kemarin. Kalau tidak saya disakiti ya sayalah yang menyakiti. Tapi sekarang saya berani berkata "Assh Mbuh, sing penting yo sing ono saiki dirumat tenanan". Saya lebih suka mencintai setiap detik yang datang kepada saya tanpa pikir panjang lagi karena pikiran saya memang tidak panjang.

Tentang menari : Sepertinya Mike Tyson lebih pandai menari daripada saya. Tapi saya nggak malu-malu kok kalo memang terpaksa harus menari biarpun ditonton banyak orang.

Pada dasarnya Mark Twain mengajak kita untuk merasa lepas tanpa beban dalam setiap tindakan kita. Gampang sih diucapkan, tapi percayalah bahwa kondisi tanpa beban itu sangat sulit dicapai.

REFLEKSI DIRI

Monday, September 25th, 2006

Setiap orang setidaknya punya seorang teman bicara dan seorang teman lagi untuk dibicarakan-Herman Saksono

Pertanyaan besar yang sering menggelitik pikiran saya adalah " Apakah saya seorang teman yang baik bagi orang-orang di sekitar saya". Sejauh ini saya selalu mendapatkan kesan yang baik dari teman-teman saya. Terlepas dari segala kekurangan saya, sepertinya hampir semua orang menyiratkan kesan baik atas keberadaan saya di antara mereka. Hampir tidak pernah ada komplain serius menyangkut perangai saya yang agak emosional, pemalas, tapi kadang sok sibuk. Yang ada justru komplain dari tetangga depan kamar kos saya yang merasa terganggu karena kamar saya sangat sering dikinjungi banyak teman.

Namun tetap saja ada pertanyaan besar "Apakah saya benar-benar teman yang baik?" Kadang saya berandai-andai bisa menghilangkan wujud saya untuk berada diantara teman-teman saya dan mendengarkan pembicaraan mereka yang sejujur-jujurnya. Apakah saya dibicarakan oleh mereka? Apakah saya penting bagi mereka? Apakah saya seorang yang menyebalkan? Adakah hal buruk yang saya lakukan terhadap mereka namun mereka tidak pernah jujur kepada saya karena takut saya akan tersinggung? Mungkin enak juga kalau bisa pasang penyadap di setiap pikiran teman demi mendapatkan feedback yang murni dari mereka demi perbaikan diri saya.

Pernah juga saya berandai-andai bisa menduplikasi diri sehingga bisa mengamati diri saya sendiri. Penasaran juga ingin melihat bagaimana cara saya tidur, kusutnya muka saat bangun, bagaimana cara saya mandi, makan, berjalan, bicara, berinteraksi dengan orang, duduk, menulis, mengetik, marah, tertawa, dan sebagainya. Saya yakin pasti ada banyak sekali hal aneh yang sebelumnya tidak  bisa kita lihat lantas ketahuan saat kita bisa menjadi orang lain bagi diri sendiri. Tentunya akan ada banyak refleksi yang tidak cukup dengan bercermin, merenung, atau mendengar kesan dari teman-teman.

Karena menghilang dan menggandakan diri hampir mustahil untuk dilakukan, maka satu-satunya cara menimbang diri sendiri adalah dari tanggapan orang lain terhadap kita. Meskipun tidak akurat namun cukup memberi petunjuk. Akan tetapi yang lebih sulit adalah ketika kita mendapatkan respon negatif bisakah kita segera merefleksikan diri dan berubah menjadi lebih baik. Dan seperti kata teman saya Teguh, yang konon kabarnya dikutip dari kitab suci, "Timbangan yang kamu kenakan pada orang lain, akan dikenakan pula pada dirimu". Jadi mari kita tetap berteman supaya bisa main timbang-timbangan.

NB: Timbangan berat badan saya naik 7 kilo. Pertanda baik atau buruk?

The Truth is Out There but The Essence is In Here

Monday, September 11th, 2006

Sejak Ajisaka membawa aksara Jawa dari Jambu Dwipa, agaknya "kebenaran" selalu diyakini datangnya dari dunia seberang. -JEAN COUTEAU

Jean Couteau seorang berkebangsaan Perancis yang menetap didesa terpencil di tepi sungai Ayung Bali saja terheran-heran pada kenyataan bahwa kita selalu memandang keluar untuk mencari kebenaran. Bener nggak?

Kita selalu menganggap barang dari luar lebih bermutu, cewek dari luar lebih cantik, ilmu dari luar lebih sahih, dan seterusnya. Memang sih ada pepatah carilah ilmu sampai ke negeri Cina tapi kadang kita justru wajib melihat ke dalam untuk merefleksikan apa yang sudah kita dapat dari luar.

Kalo boleh menilai, menurut saya orang luar itu isi kepalanya nggak jauh beda dengan isi kepala orang-orang kita. Kebetulan saya sudah pernah ketemu cukup banyak orang asing dan menurut saya bangsa Indonesia tidak sedikit pun lebih bodoh dari mereka.

Tapi bagaimana kita tidak selalu memandang ke luar ketika segala urusan remeh temeh sampai yang besar harus kita impor. Hak celana dan pengait BH harus kita impor dari Chezka atau Cina, Beras kita dari Thailand atau Vietnam, Peralatan elektronik biarpun dibikin di Indonesia tapi ide dasar dan lisensinya dari Jepang. Keripik dan makanan kecil lain datang dari Malaysia. Di dunia hiburan, biarpun sinetron menjamur dimana-mana, ide ceritanya banyak yang menjiplak opera sabun luar pula. Pemain sepakbola Liga Indonesia banyak juga diimpor dari luar sementara kualitasnya tidak lebih baik dari pemain lokal dan doyan juga bikin keributan. Karet pengaman merek terkenal pun punya slogan "Kondom IMPOR rasa strawberry".

Kalau saya serta merta menentang semua itu mungkin banyak orang segera mengatakan bahwa saya ini anti globalisasi, kuno, ndeso, sok idealis, dan berbagai ungkapan sepet lainnya. Globalisasi memang tak terhindarkan tapi kok ya kita cuma jadi pemakai, objek penderita, korban, pasif, dan nrimo. Naas sekali nasib bangsa kita.

Kalau kita ambil sisi positif dari kenyataan yang serba impor tadi, mungkin kita jadi bisa banyak belajar dari luar khususnya dunia barat. Namun kapankah mereka mau belajar dari kita kalau kita sendiri tidak yakin bahwa sebenarnya dalam diri kita, lingkungan kita, budaya kita, dan bangsa kita ada pula kebenaran yang menanti untuk didengarkan oleh seluruh penjuru dunia.

Dan nggak asik kan kalau pada akhirnya dunia ini cuma kenal satu budaya, satu bahasa, satu jenis musik, satu orang idola, satu jenis pakaian, pendek katanya mengerucut (konvergen). Dunia kurang berwarna kalau nggak ada perbedaan dan masing-masing unsur warna itu semestinya bisa saling bersinar kuat tanpa harus mengalahkan pancaran warna yang lain.

Kalau anda masih ingat film The X-file yang punya slogan "THE TRUTH IS OUT THERE", saya ingin menambahkan" BUT THE ESSENCE IS IN HERE".

Bukan Milikku

Wednesday, September 6th, 2006

"Biarkan, Mereka bahkan berhak merusaknya. Karena merekalah aku bisa membeli mobil ini"-JOHN LENNON

Itu adalah ucapan John Lennon kepada sopir dan pengawal mobil Rolls-Royce yang ditumpanginya ketika suatu saat mobil tersebut dicegat segerombolan penggemar yang waktu itu memang sangat tergila-gila pada pentolan the Beatles tersebut.

Lagi-lagi kok The Beatles. Mungkin karena akhir-akhir ini saya sering mendengarkan MP3 mereka dan membaca buku tentang mereka setelah beberapa saat lalu saya kembali masuk studio bersama teman-teman SMA saya (Kunta, Itong, dan Anang) membawakan lagu-lagu mereka.

Bukan soal The Beatles dan lagu-lagu mereka yang ingin saya bahas pada tulisan saya kali ini namun mengenai pandangan John Lennon akan kepemilikan. Memang secara syah dan meyakinkan mobil yang ia tumpangi adalah milik pribadinya namun John merasa orang-orang yang mencegatnya juga memiliki hak atas mobil itu. Karena para pengemar lah mobil super mewah itu bisa ia beli.

Kepemilikan memang pada hakikatnya tidak bersifat absolut. Dalam setiap apa pun yang melekat pada kita terdapat andil banyak pihak yang ujung-ujungnya bermuara pada Tuhan sendiri.

Pernahkah kita pikirkan berapa banyak orang yang terlibat dalam pengadaan sepiring nasi (belum termasuk lauk-pauknya lho)? Mulai petani, tukang giling beras, petugas KUD, tengkulak beras, pengimpor beras, sopir truk beras, pengecer beras di pasar, dan mbak warteg atau mungkin ibu kita di rumah. Banyak sekali bukan. Dan meskipun kita sudah membayar untuk sepiring nasi namun pada dasarnya terdapat jasa yang merupakan andil tak terbayarkan dari banyak pihak yang terlibat.

Itu baru sepele "sepiring nasi" belum lagi kalau kita berpikir keberadaan kita sampai usia sekarang ini. Mungkin mudah kita sebut orang tua sebagai pihak yang paling berjasa bagi kita. Namun masih ada ratusan mungkin ribuan orang yang pernah kita temui selama hidup yang juga punya jasa membentuk pikiran dan kesadaran kita.

Membaca lagi blog-blog saya yang terdahulu terutama yang berjudul "Buat Apa" saya jadi agak malu karena sebenarnya dalam setiap waktu yang saya miliki sebenarnya terdapat hak banyak orang disitu. Jika waktu saya dirampas oleh orang, maka tidak seharusnya saya serta-merta marah karena mungkin waktu pribadi saya yang terampas oleh pekerjaan yang begitu banyak bermanfaat juga buat saya. Saya sadar benar karakter saya yang sejak dulu memang agak liar sedikit banyak teredam karena saya tidak punya banyak waktu untuk berpikir jahat. Jadi sebenarnya orang yang telah merampas waktu saya telah menyelamatkan saya dari tindakan yang kurang terpuji meskipun saya berharap perampasan ini tidak berlangsung berlarut-larut.

Kesadaran bahwa apa yang kita miliki bukan secara mutlak milik kita bisa menjadikan banyak hal yang tadinya diakron menjadi sinkron dan damailah dunia. Ingat kata Aa’ Gym yang meminta kita untuk meniru semangat tukang parkir yang tidak merasa memiliki namun hanya merasa dititipi. Selamat berjuang kembali kawan. Sukses!

Wujudkan Impian (2)

Friday, September 1st, 2006

Aku percaya pada semua hal sampai hal itu terbukti tidak benar. Aku percaya pada legenda, mitos, dan naga. Semua itu ada - bahkan jika hanya ada dalam pikiran. Siapa bilang mimpi dan mimpi buruk tak senyata yang kita alami saat ini? Realitas banyak bergantung pada imajinasi - JOHN LENNON

Ketika teman saya Usman Anis alias Cory dulu pernah berujar bahwa dia punya tiga orang pacar (meskipun kenyataannya tidak begitu) saya segera menyanggah dan menyuruh dia bangun dari mimpinya yang menurut saya terlalu muluk. Padahal apa salahnya sih dia bermimpi begitu? Siapa tahu dia bisa mewujudkannya dan mengajak saya makan-makan karena jadian dengan 3 cewek.

Saat kita beranjak dewasa, kesalahan terbesar yang umum kita lakukan adalah mengubur mimpi dan memisahkannya dari kenyataan. Padahal, mimpi hadir dalam kehidupan kita untuk lebih menghidupkan kenyataan. Bahkan John Lennon secara ekstrim menyatakan bahwa realitas bergantung pada imajinasi.

Siapa sangka mimpi orang untuk bisa terbang pada akhirnya bisa terwujud dan mengantarkan ribuan orang setiap harinya ke tempat-tempat yang jauh dalam waktu singkat. Siapa yang mengira keinginan manusia untuk bertelepati dengan menghubungi orang per orang kini dapat dipenuhi cukup dengan telepon gengam yang teknologinya kian berkembang. Siapa sangka The Beatles, empat kecoa dari kota buruh Liverpool, bisa jadi ikon budaya paling berpengaruh di abad ke dua puluh.

Tapi untuk mewujudkan mimpi dengan sempurna dan menyatukannya dengan dunia nyata perlu kekuatan, ketekunan, disiplin diri, semangat, keberanian menentang arus, dan mungkin juga keberuntungan. Hampir semua orang menyerah dan tidak melanjutkan bermimpi ketika ditengelamkan dalam lautan kenyataan. Ketika banyak orang bilang bahwa naga itu hanya bualan maka orang dewasa pada umumnya akan segera menurut saja demi mempertahankan predikat sebagai manusia waras.

Kalau saya sendiri sih sejak kecil memang tidak percaya pada naga. Mungkin karena saya seorang yang sedikit egois, mimpi-mimpi saya bukan mengenai naga melainkan mengenai bagaimana diri saya sendiri kelak. Saya selalu membayangkan diri saya kelak menjadi seseorang yang mandiri, berkuasa, dan makmur secara finansial. Namun baru saja tadi pagi saya disadarkan oleh dialaog antara dua teman kos saya Mamox alias Adi dan Teguh. Mamox bilang, " Sing penting golek duwit supaya sugih." Teguh menyanggah, " Sugih thok ra cukup, mending dadi wong kondang. Nek saiki kondang putumu isih kelingan tapi nek sugih mbuh iso tekan putu opo ora?." Bener juga Guh. Kalau cuma kaya, paling banter kekayaan kita samapai ke anak. Tapi kalau kita punya kontribusi besar pada lingkungan sekitar atau bahkan kalau diambil muluknya bisa mempengaruhi dunia maka jangankan cucu, turunan ketujuh pun masih akan bangga dengan kita. Seiring dengan bertambahnya pengaruh kita pada lingkungan sewajarnya uang semakin mendekat pada kita.

Bagaimana perasaan bangga anak-anak The Beatles, cucu-cucu Thomas Alva Edison (eh punya cucu nggak ya), putra-putri Bung Karno (sayang nggak ada yang sehebat bapaknya), dan masih banyak orang lagi. Pasti sangat bangga.

Kembali lagi ke mimpi-mimpi. Menurut saya tidak ada salahnya, meskipun sekarang saya sudah masuk usia dewasa (meskipun masih suka bertindak nakal), saya tetap menghidupkan mimpi-mimpi saya sampai mimpi tersebut benar-benar tidak bisa diwujudkan lagi. Saya harus percaya pada semua hal, termasuk mimpi saya, sampai hal itu terbukti tidak benar. Salut buat teman-teman saya Ogik, Ayik, Hormon, dan Tika. Mimpi kalian sangat mengilhami dan mulai terwujud meski banyak orang dulu memandang sebelah mata.

Jika kenyataan saat ini tidak menyenangkan seperti mimpimu, maka satukanlah mimpimu dengan kenyataan dan buatlah sejalan.