Aku percaya pada semua hal sampai hal itu terbukti tidak benar. Aku percaya pada legenda, mitos, dan naga. Semua itu ada - bahkan jika hanya ada dalam pikiran. Siapa bilang mimpi dan mimpi buruk tak senyata yang kita alami saat ini? Realitas banyak bergantung pada imajinasi - JOHN LENNON
Ketika teman saya Usman Anis alias Cory dulu pernah berujar bahwa dia punya tiga orang pacar (meskipun kenyataannya tidak begitu) saya segera menyanggah dan menyuruh dia bangun dari mimpinya yang menurut saya terlalu muluk. Padahal apa salahnya sih dia bermimpi begitu? Siapa tahu dia bisa mewujudkannya dan mengajak saya makan-makan karena jadian dengan 3 cewek.
Saat kita beranjak dewasa, kesalahan terbesar yang umum kita lakukan adalah mengubur mimpi dan memisahkannya dari kenyataan. Padahal, mimpi hadir dalam kehidupan kita untuk lebih menghidupkan kenyataan. Bahkan John Lennon secara ekstrim menyatakan bahwa realitas bergantung pada imajinasi.
Siapa sangka mimpi orang untuk bisa terbang pada akhirnya bisa terwujud dan mengantarkan ribuan orang setiap harinya ke tempat-tempat yang jauh dalam waktu singkat. Siapa yang mengira keinginan manusia untuk bertelepati dengan menghubungi orang per orang kini dapat dipenuhi cukup dengan telepon gengam yang teknologinya kian berkembang. Siapa sangka The Beatles, empat kecoa dari kota buruh Liverpool, bisa jadi ikon budaya paling berpengaruh di abad ke dua puluh.
Tapi untuk mewujudkan mimpi dengan sempurna dan menyatukannya dengan dunia nyata perlu kekuatan, ketekunan, disiplin diri, semangat, keberanian menentang arus, dan mungkin juga keberuntungan. Hampir semua orang menyerah dan tidak melanjutkan bermimpi ketika ditengelamkan dalam lautan kenyataan. Ketika banyak orang bilang bahwa naga itu hanya bualan maka orang dewasa pada umumnya akan segera menurut saja demi mempertahankan predikat sebagai manusia waras.
Kalau saya sendiri sih sejak kecil memang tidak percaya pada naga. Mungkin karena saya seorang yang sedikit egois, mimpi-mimpi saya bukan mengenai naga melainkan mengenai bagaimana diri saya sendiri kelak. Saya selalu membayangkan diri saya kelak menjadi seseorang yang mandiri, berkuasa, dan makmur secara finansial. Namun baru saja tadi pagi saya disadarkan oleh dialaog antara dua teman kos saya Mamox alias Adi dan Teguh. Mamox bilang, " Sing penting golek duwit supaya sugih." Teguh menyanggah, " Sugih thok ra cukup, mending dadi wong kondang. Nek saiki kondang putumu isih kelingan tapi nek sugih mbuh iso tekan putu opo ora?." Bener juga Guh. Kalau cuma kaya, paling banter kekayaan kita samapai ke anak. Tapi kalau kita punya kontribusi besar pada lingkungan sekitar atau bahkan kalau diambil muluknya bisa mempengaruhi dunia maka jangankan cucu, turunan ketujuh pun masih akan bangga dengan kita. Seiring dengan bertambahnya pengaruh kita pada lingkungan sewajarnya uang semakin mendekat pada kita.
Bagaimana perasaan bangga anak-anak The Beatles, cucu-cucu Thomas Alva Edison (eh punya cucu nggak ya), putra-putri Bung Karno (sayang nggak ada yang sehebat bapaknya), dan masih banyak orang lagi. Pasti sangat bangga.
Kembali lagi ke mimpi-mimpi. Menurut saya tidak ada salahnya, meskipun sekarang saya sudah masuk usia dewasa (meskipun masih suka bertindak nakal), saya tetap menghidupkan mimpi-mimpi saya sampai mimpi tersebut benar-benar tidak bisa diwujudkan lagi. Saya harus percaya pada semua hal, termasuk mimpi saya, sampai hal itu terbukti tidak benar. Salut buat teman-teman saya Ogik, Ayik, Hormon, dan Tika. Mimpi kalian sangat mengilhami dan mulai terwujud meski banyak orang dulu memandang sebelah mata.
Jika kenyataan saat ini tidak menyenangkan seperti mimpimu, maka satukanlah mimpimu dengan kenyataan dan buatlah sejalan.