Archive for August, 2006

Pulang

Tuesday, August 15th, 2006

The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
Ive seen that road before
It always leads me her
Lead me to you door

Seperti burung merpati yang peka medan magnet rumahnya, saya juga merasakan medan magnet kampung saya yang sering menarik saya pulang. Sesampai di rumah segera saja serangkaian kebiasaan lama muncul. Bermalas-malasan, hidup santai, pokoknya segera beradptasi dengan kondisi lama.

Ketika saya tanyakan tentang apa yang dia rasakan sebelum pulang ke semarang kepada tetangga saya arisetyorini81 dia menjawab, " Sakdurunge mulih aku kangen omah, tekan ngomah rasane biasa, pas arep bali jakarta meneh rasane abot, mulih semarang rasane mung kaya ngimpi". Pulang kampung bagi pekerja-perantau seperti saya dan ari memang cuma seperti mimpi yang bisa diulang setiap saat kita dapat liburan yang lumayan panjang. Kangen saya pada Jogja dan orang-orang yang ada di sana sebenarnya biasa saja tapi seperti halnya mimpi indah, saya ingin mengulanginya.

Fisik dan mental saya sebenarnya sudah bisa beradaptasi dengan ruwet dan dinamisnya jakarta, namun entah kenapa tetap saja hanya medan magnet jogja yang membuat saya merasa di rumah. Sebenarnya kebiasaan ini sungguh makan biaya dan melelahkan secara fisik. Tapi ya namanya orang jawa udik ya harus pulang kampung to ya biarpun menderita di jalan.

Selamat mudik teman-teman jogja.

Relevansi Dunia Maya

Friday, August 11th, 2006

Berikut ini petikan surat dari salah seorang rekan saya ketika saya tanyakan mengapa mailing list kami sepi untuk waktu yang lama:

Dear Anton,
Tidak semua orang muda aktif dalam dunia maya,
Tidak ada istilah orang muda itu sepi,
semangat orang muda adalah mencari , bergerak dan terus berjiarah,
ketika dunia virtual tidak lagi memberikan jawaban,
orang muda akan berkelana
ke alam dan dunia lain yang mampu membawa jiwa muda pergi jauh…

Orang muda selalu sibuk mencari dan terus mencari itu benar….

bagaimana orang muda dapat berkelana didunia maya
tanpa pernah mendarat pada puing-puing realitas kehidupan,
(kalau ini yang terjadi akan muncul pepesan kosong yang dijual bersama
otak-otak)

selamat berjiarah dan mencari…
dan jangan lelah

Mungkin beberapa dari anda kontan bereaksi seperti ini "plis deh hari gini-gitu loh masih mikir pepes otak-otak eh menganggap dunia maya itu pada hakikatnya kosong". Saya pun pada mulanya berpikir demikian lho. Namun setidaknya pendapat bahwa dunia maya itu kosong semata tidak terlalu salah jika orang-orang yang terhubung ke dunia tersebut pada mulanya memang tidak punya modal informasi yang baik.

Dunia maya yang dibangun oleh jaringan internet sebenarnya cuma salah satu metode komunikasi yang tidak jauh beda fungsinya dari sandi asap, kentongan, merpati pos, radio, dan masih banyak lagi. Filosofi yang utama dari sistem komunikasi bukan terletak pada mediumnya tapi pada informasinya. Jika memang tidak ada informasi yang dipertukarkan maka tidak ada gunanya to kita berkomunikasi.

Benar sekali bahwa kita memang perlu mengisi kepala kita dengan informasi untuk selanjutnya dipertukarkan. Kita bisa berkelana, berjiarah, mengamati, bekerja, atau sekadar membaca agar kita punya informasi. Nah yang ingin saya salahkan itu orang-orang yang datang ke dunia maya cuma untuk berkelana. Disana tidak ada apa-apa bung selain keterhubungan antara manusia. Jadi kalau tidak niat berhubungan dengan manusia jangan ke dunia virtual. Rugi sendiri deh. Mata pedas, pungung sakit, kepala pusing, dan hasilnya nihil.

Beda lagi kasusnya denga para gerilyawan Hizbullah di Lebanon yang bergantung pada web-log (Blog) untuk saling terhubung selama perang yang tengah berkecamuk karena diserang oleh Israel. Beda juga kisah bapak Menhan Juwono sudarsono yang menuangkan pikirannya di blog juga karena tidak sempat menulis buku. Beda pula kasusnya pada Jojon Center (situs saingan habibie center) yang khusus didedikasikan buat pelawak-pelawak. Beda lagi kasusnya dengan seorang gadis kesepian yang mencari pria baik hati di friendster. Beda lagi kasusnya sama orang-orang yang berada di kota-kota yang saling terletak berjauhan dan mengandalkan Yahoo Messenger untuk bertemu setiap saat setiap waktu. Beda lagi kasusnya sama jutaan halaman e-book yang tersebar di mana-mana (kecuali di indonesia barangkali).

Itu baru kulitnya doang. Kalo mau menjelajah lebih dalam lagi masih banyak perubahan besar yang dinanti dunia nyata dengan adanya dunia maya. Jadinya kok saya setuju dengan ungkapan "Plis deh, hari gini gitu loh, masih tanya-tanya soal relevansi dunia maya"

Wujudkan Impian Anda

Friday, August 11th, 2006

Sekarang Saatnya anda memenuhi apa pun kebutuhan anda. Wujudkan impian anda bersama XXX bank. Cicilan tetap tanpa jaminan.

Timbul pertanyaan, "Impian musti ngutang dulu ya?" Bisakah kita memenihi impian dengan kerja keras, tekun, dan sabar. Jangan-jangan impian saya terlalu kecil sehingga tidak perlu modal besar yang ujung-ujungnya tidak perlu ngutang ke pemilik modal besar.

Kalau dipikir-pikir, misal kita mau wujudkan impian (konkretnya buka usaha deh) dengan cara mengutang, pada akhirnya jika semua berjalan lancar sampai dengan sekembalinya uang pada pengutang, maka siapa yang akan lebih kaya? Menurut saya kok tetep si pemilik modal awal. Jadinya ujung-ujungnya yang kaya tetap kaya, yang miskin tetap miskin. Bedanya yang kaya semakin santai karena duitnya bertambah dan bertambah sementara yang miskin semakin panik dan bekerja ekstra keras supaya usahanya lancar dengan harapan bisa mengembalikan modal plus bunga ke pemilik modal.

Jujur saja nih saya buta samasekali dengan dunia keuangan semacam begini tapi kok kalau dilihat secara global pengamatan saya di atas kok tidak salah-salah banget. Nah, apakah gerangan yang salah pada sistem ini. Atau memang sebenarnya ini merupakan perwujudan dari hukum alam yang sederhana saja yaitu yang lebih cerdik melibas yang bodoh. Sebab kadang si pemilik modal besar bisa jadi orang bodoh juga karena kreditnya macet dan sebagainya.

Waduh saya jadi semakin ketar-ketir nih. Saya kan lumayan bodoh. Terlibas nggak ya? Ah, kadang-kadang saya pintar dan beruntung juga kok.

Nah menyambung blog saya yang berjudul BUAT APA, saya jadi bertanya-tanya lagi," Saya berhutang kepada siapa ya kok saya harus bekerja ekstra?" " Kalau misalnya saya tidak melakukan ‘kewajiban’ itu lantas kenapa?" Saya toh tidak dikejar-kejar hutang. Oh, mungkin pihak yang mempekerjakan sayalah yang dibelit hutang sehingga ‘memaksa’ para pekerja untuk bekerja lebih supaya bisa bayar utang.

Namun semua ini hanya praduga lho. Saya tidak punya cukup ilmu dan bukti untuk menyatakan bahwa semua yang saya tulis ini valid secara ilmiah. Jadi mohon dianggap sebagai wacana saja tanpa perlu didebatkan dalam seminar, simposium, rapat kerja, dan sebagainya. Namun urun rembug alias tanggapan berupa apa pun saya anggap sebagai wujud cinta para pembaca blog saya ini.

Terima kasih berkenan membaca tulisan ini. Dan kalau boleh saran (tanpa maksud menggurui lho ya) jangan biasakan terlibat dalam utang-piutang untiuk mewujudkan impian….Mumet!!Ngimpi kok ngutang.