Berikut ini petikan surat dari salah seorang rekan saya ketika saya tanyakan mengapa mailing list kami sepi untuk waktu yang lama:
Dear Anton,
Tidak semua orang muda aktif dalam dunia maya,
Tidak ada istilah orang muda itu sepi,
semangat orang muda adalah mencari , bergerak dan terus berjiarah,
ketika dunia virtual tidak lagi memberikan jawaban,
orang muda akan berkelana
ke alam dan dunia lain yang mampu membawa jiwa muda pergi jauh…
Orang muda selalu sibuk mencari dan terus mencari itu benar….
bagaimana orang muda dapat berkelana didunia maya
tanpa pernah mendarat pada puing-puing realitas kehidupan,
(kalau ini yang terjadi akan muncul pepesan kosong yang dijual bersama
otak-otak)
selamat berjiarah dan mencari…
dan jangan lelah
Mungkin beberapa dari anda kontan bereaksi seperti ini "plis deh hari gini-gitu loh masih mikir pepes otak-otak eh menganggap dunia maya itu pada hakikatnya kosong". Saya pun pada mulanya berpikir demikian lho. Namun setidaknya pendapat bahwa dunia maya itu kosong semata tidak terlalu salah jika orang-orang yang terhubung ke dunia tersebut pada mulanya memang tidak punya modal informasi yang baik.
Dunia maya yang dibangun oleh jaringan internet sebenarnya cuma salah satu metode komunikasi yang tidak jauh beda fungsinya dari sandi asap, kentongan, merpati pos, radio, dan masih banyak lagi. Filosofi yang utama dari sistem komunikasi bukan terletak pada mediumnya tapi pada informasinya. Jika memang tidak ada informasi yang dipertukarkan maka tidak ada gunanya to kita berkomunikasi.
Benar sekali bahwa kita memang perlu mengisi kepala kita dengan informasi untuk selanjutnya dipertukarkan. Kita bisa berkelana, berjiarah, mengamati, bekerja, atau sekadar membaca agar kita punya informasi. Nah yang ingin saya salahkan itu orang-orang yang datang ke dunia maya cuma untuk berkelana. Disana tidak ada apa-apa bung selain keterhubungan antara manusia. Jadi kalau tidak niat berhubungan dengan manusia jangan ke dunia virtual. Rugi sendiri deh. Mata pedas, pungung sakit, kepala pusing, dan hasilnya nihil.
Beda lagi kasusnya denga para gerilyawan Hizbullah di Lebanon yang bergantung pada web-log (Blog) untuk saling terhubung selama perang yang tengah berkecamuk karena diserang oleh Israel. Beda juga kisah bapak Menhan Juwono sudarsono yang menuangkan pikirannya di blog juga karena tidak sempat menulis buku. Beda pula kasusnya pada Jojon Center (situs saingan habibie center) yang khusus didedikasikan buat pelawak-pelawak. Beda lagi kasusnya dengan seorang gadis kesepian yang mencari pria baik hati di friendster. Beda lagi kasusnya sama orang-orang yang berada di kota-kota yang saling terletak berjauhan dan mengandalkan Yahoo Messenger untuk bertemu setiap saat setiap waktu. Beda lagi kasusnya sama jutaan halaman e-book yang tersebar di mana-mana (kecuali di indonesia barangkali).
Itu baru kulitnya doang. Kalo mau menjelajah lebih dalam lagi masih banyak perubahan besar yang dinanti dunia nyata dengan adanya dunia maya. Jadinya kok saya setuju dengan ungkapan "Plis deh, hari gini gitu loh, masih tanya-tanya soal relevansi dunia maya"