Orang Indonesia Berubah
Saat duduk-duduk di sebuah loby lantai tujuh plaza Kuningan menara selatan, saya disindir oleh rekan saya Frans Parlaungan karena tidak menyapa seorang trainer asal portugal yang sedang duduk sendirian. Katanya, " Bang, kita ini bangsa Indonesia yang terkenal ramah tamah. Masa’ ada orang asing dibiarkan duduk bengong sendirian".
Bangsa Indonesia dulu memang dikenal sebagai bangsa yang ramah, tepo sliro, dan cinta damai. Stereotip tersebut tecermin dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Indonesia masa lampau.
Benarkah sampai saat ini bangsa Indonesia masih ramah tamah? Sekarang orang-orang Indonesia mudah sekali berprasangka, menilai sesuatu secara sepintas (heuristic) tanpa memprosesnya secara terinci dalam alam pikiran. Sekarang terjadi perubahan yang signifikan pada masyarakat Indonesia dari yang ramah menjadi pemarah. Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dikenal sangat mudah berprasangka terhadap apa pun, di berbagai sektor kehidupan, seperti antara suami istri, orang tua dengan anak, antara elite politik dan tokoh agama, antara pekerja dan majikannya, dan juga etnik satu dengan lainnya.
Rumit memang, seolah-olah sekarang ramah-tamah sudah diganti jamah dan jarah. Tapi kita perlu suatu solusi agar jatidiri bangsa bisa kembali. Atau jangan-jangan menurut anda memang ramah tamah sudah tidak penting lagi? ("Nggak Worthed", kata Oming)