Archive for June, 2006

Peter Crouch (Kerempeng), Mana Keren??

Thursday, June 22nd, 2006

Kurus bukan kurang gizi

Lagi-lagi saya mau ngomongin soal bola nih. Meskipun belum bisa dikatakan gibol (penggila bola) yang fanatik, saya cukup kenyang juga nonton sepakbola selama PD2006 ini. Salah satu pemain yang cukup menarik untuk dibahas adalah Peter Crouch. Striker Inggris nan jangkung dari Liverpool FC ini memang bukan sosok istimewa di jagad sepakbola namun ada hal yang membuat saya bisa ber-empati kepadanya.

Badannya yang agak terlalu kurus ditambah lagi posturnya yang jangkung dan hidungnya yang tirus membuat dia semakin tampak seperti sebatang lidi berjalan. Posturnya ini yang banyak membuat orang tidak yakin akan kondisinya yang baik-baik saja dan prestasinya yang cukup bagus di Liverpool maupun di timnas Inggris. Adakah diantara kita yang mengira kalau badan kurus Peter Crouch karena dia kekurangan gizi? Tentu saja hal ini hampir mustahil jika mengingat dia adalah seorang atlet profesional di klub besar Inggris dengan gaji super besar.

Peter Crouch kurus karena dia ditakdirkan memiliki badan demikian. Begitu pula saya. Meskipun saya bukan orang kaya, namun saya hampir tidak mungkin kekurangan gizi karena saya hampir selalu makan makanan bergizi. Bahkan di waktu kecil, telur dan susu tidak pernah absen dari menu harian saya.

Nah setelah sejak beberapa bulan lalu saya bekerja di sebuah perusahaan, yang kata teman-teman saya memberikan gaji di atas standar gaji fresh graduate, ada teman yang nyeletuk " Pelit amat sih lu. Punya gaji buat makan dong. Kerja berbulan-bulan kok nggak tambah gemuk." Sialnya saya kok lantas memikirkan celetukan ini dan mengambil hipotesis bahwa ada yang salah dengan pola makan saya. Kemudian saya makan sebanyak-banyaknya dengan porsi daging yang dilipatgandakan. Hasilnya, bukannya saya jadi sehat dan gemuk tapi justru sering gangguan pencernaan, sakit-sakitan, dan kalaupun ada pertambahan cuma perut yang sedikit agak buncit. Sial!!

Ketakutan saya untuk disebut kurus ditambah karena ada seorang perempuan yang juga menyeletuk "Kamu itu kurus, jadi kurang keliatan gagah. Perempuan suka sama yang kelihatan gagah karena biasanya kuat dan bisa diandalkan." Setelah dipikir-pikir lagi saya berkesimpulan " Ah itu kan hanya kesan, sama saja seperti laki-laki yang melihat perempuan montok terus berasumsi bahwa dia subur. Padahal banyak juga yang montok tapi susah punya anak". Jadi akhirnya saya menetapkan sebuah kesimpulan global bagi kasus ini:

1. Kurus Ga’ Masalah

2. Kurus bukan kurang gizi

3. Kurus boleh yang penting sehat, kuat, cerdas, dan berwibawa (ya seperti saya ini)

Kasus Ditutup.

Nama dan Merek dagang Peter Crouch dan Liverpool FC dipakai tanpa seijin pemilik

Ksatria Bunga Matahari

Wednesday, June 21st, 2006

Monster atau superhero cuma masalah persepsi

Di musim bola seperti PD2006 ini tentunya para penonton bola punya jadwal tetap setiap malam di depan televisi untuk menyaksikan tim-tim kelas dunia berlaga. Sebulan penuh kita dihibur pemain-pemain top dari semua benua karena Australia sudah bisa ikut PD 2006.

Asyik sekali pastinya nonton bola sambil menyeruput bercangkir-cangkir kopi, ditemani berbatang-batang rokok, dan berbungkus-bungkus kacang kulit rasa MEREK TERKENAL. Namun, apakah itu sehat jika dilakukan selama sebulan penuh? Yang jelas, babak penyisihan belum usai badan saya sudah terasa kurang enak karena terlalu banyak mengopi, merokok, dan mengacang.

Perlu sebuah solusi cerdas agar mata tetap melek tapi tidak terlalu banyak racun masuk ke tubuh. Salah satunya yaitu makan SUNFLOWER KUIHUAZI alias KWACI BUNGA MATAHARI. Dengan makan kwaci, tangan, mulut, dan gigi selalu sibuk menguliti biji kwaci yang kecil, memilah kulit dan isi secara cermat, dan menikmati isinya secara seksama. Kesibukan yang ditimbulkan dari kegiatan makan kwaci lebih banyak dibandingkan sekadar makan kacang kulit rasa MEREK TERKENAL sementara resiko jerawat bisa diminimalisir. Maklumlah saya sedang dalam program mereduksi secara besar-besaran lemak di wajah untuk mencegah jerawat.

Ada pula yang bilang bahwa makan kwaci punya efek psikologis positif namun sayangnya saya belum pernah menjumpai literaturnya secara resmi (apakah ada yang bisa membantu saya?). Yang pasti karena banyak makan kwaci bunga matahari saya jadi ingat tokoh KSATRIA BUNGA MATAHARI, seorang pahlawan super pembasmi monster di film animasi buatan teman-teman di Jogja.

Ksatria Bunga Matahari punya kekuatan dibawah gatotkaca namun dia lebih fleksibel dan tahan medan magnet karena gatotkaca kan terbuat dari otot kawat dan balung wesi (tulang besi), sehingga ketika menghadapi monster dengan kekuatan magnet yang menghancukan kota, ksatria bunga matahari lebih tahan bahkan bisa melumpuhkan monster tersebut. Namun, karena kekuatan ajiannya terlalu besar dikeluarkan maka bukannya menyelamatkan kota tapi justru menghancurkan seisi bumi. Akhirnya, film tersebut berkesimpulan bahwa Monster atau superhero itu cuma masalah persepsi.

Anda mau jadi monster atau jadi superhero? Yang jelas kalau saya mau makan kwaci saja deh.

Terus Belajar

Saturday, June 10th, 2006

"pelajarilah kebijaksanaan di pagi hari, dan meninggalah dengan tenang di malam hari"-konfusius

Ketika pertama kali saya bisa membaca sewaktu di TK dulu, bangga sekali rasanya. Segala macam huruf tulisan menjadi memiliki makna. Semua teks saya baca, mulai dari majalah mewarnai milik saya, sobekan koran, tulisan di bus, bungkus makanan, dan masih banyak lagi. Begitu lahapnya saya waktu itu menyerap semua informasi tertulis yang secara tidak langsung membuat saya belajar banyak hal.

Namun apa yang saya alami sekarang ini bagaikan seorang anak yang sedang belajar membaca b-u bu d-i di->dibu sementara teman-teman sebaya saya sudah mampu berdeklamasi dan berpidato, bagaikan seorang anak yang sedang belajar menulis huruf A-Z sementara anak-anak sebaya saya sudah bisa menulis puisi, seperti bayi yang belajar berjalan sementara teman yang lain sudah mengikuti lomba lari di kecamatan. Saya melihat kemampuan teman-teman sebaya saya jauh melebihi saya.

Dengan penuh kesadaran saya tahu bahwa pemecahan terhadap masalah ini cuma satu yaitu terus belajar dan belajar. Namun saya bukanlah lagi saya si anak TK yang dengan lahapnya menyerap semua tulisan kapan pun dan dimana pun. Kepala saya serasa sulit diajak berpikir dan memahami sesuatu dengan cepat. Sedikit hal yang sudah saya pelajari itu pun tidak segera diikuti perubahan sikap yang selanjutnya menjadi habitus baru. Proses pembelajaran berlangsung sangat lambat sementara setiap detik pengetahuan baru dan keahlian baru menuntut saya untuk segera mengerti mereka. Dunia senatiasa berubah dengan cepat dan yang tidak segera belajar menyesuaikan dengan perubahan-perubahan tersebut akan tersingkir.

Seringkali saya bertanya-tanya kepada diri sendiri "kemana saja saya selama ini, sehingga begitu sedikit pengetahuan yang saya miliki". Namun reaksi saya biasanya cuma berhenti pada mengutuki diri sendiri atas kebodohan tersebut tanpa segera belajar dan mengejar ketertinggalan. Kalaupun diikuti dengan belajar itu pun tidak sampai tuntas, mengerti dan sampai pada tahap penerapan. Begitu cepatnya saya menyerah jika bertemu sebuah kesulitan sehingga pembelajaran saya seringkali berhenti ketika baru menyentuh kulit permasalahan.

Begitu sulitnya berubah. Sementara saya sadar sepenuhnya bahwa saya seringkali di posisi juru kunci dalam berbagai hal keahlian meskipun dengan keahlian yang minim tersebut saya jarang sekali gagal mencapai tujuan saya. Tapi setidaknya saya tahu dimana posisi saya dan betapapun menyakitkannya kenyataan itu tidak ada sesuatu pun yang lebih baik di dunia ini selain kenyataan yang sebenar-benarnya. Dan dari kenyataan itulah saya berpijak.

Namun demikian ada sebuah keyakinan yang selalu saya tanamkan (meskipun tanaman itu belum kunjung tumbuh)yaitu bahwa hanya dengan belajar saya bisa bertahan hidup. Biarpun merayap sangat lambat saya harus tetap bergerak maju. Dan ketika kita tidak tahu apa-apa hanya ada satu cara yaitu mencari tahu. Dan ketika berada pada posisi paling bawah hanya ada satu jalan yaitu naik. Sebuah perjalanan panjang ribuan mil haruslah dimulai dengan satu langkah kecil.

Saya tidak ingin ketika nantinya disidang di hari penghabisan saya tidak bisa memberikan pertanggungjawaban atas segala kemudahan yang saya dapat selama hidup untuk belajar namun tidak memanfaatkannya dengan benar. Dengan kemampuan berpikir saya yang mungkin sedikit di bawah rata-rata saya harus bisa memaksimalkan potensi dan berkat pengetahuan yang melimpah yang ada di sekitar saya. Doakan saya berhasil, Teman.

Memilih Pikiran

Friday, June 9th, 2006

"You are what you read"

Belakangan ini saya cukup sering membeli buku. Tidak terlalu banyak sih, tapi kalau dibuat grafik akan tampak sebuah lengkungan naik yang curam dalam beberapa bulan belakangan ini. Memang hal ini belum membuat kamar saya tampak seperti kamarnya kutu buku (mudah-mudahan sampai kapan pun tidak akan seperti kutu buku) dimana banyak buku tebal bertebaran dimana-mana, tapi cukup menggusur ruang buat baju-baju saya yang kebetulan jumlahnya juga sedikit. Maklumlah, saya belum sempat mencari rak khusus buat buku karena menurut saya jumlahnya juga belum terlalu banyak.

Sebenarnya bukan masalah jumlah dan ragam buku yang saya khawatirkan, namun jumlah dan macam pemikiran yang akan masuk kedalam otak saya yang cukup sempit ini yang lebih membuat saya berpikir. Setiap saat buku mengundang kita untuk membukanya dan dia akan menceritakan berbagai hal yang ada di dalamnya. Sedikit banyak tentu cara berpikir si penulis atau penyusun akan mempengaruhi kita mulai dari reaksi seperti tertegun sesaat, berpikir berminggu-minggu, bahkan sampai menjadikannya pandangan hidup yang dibawa sampai mati (atau bahkan sampai ke kehidupan setelah kematian).

Sampailah saya kepada suatu kesadaran bahwa tidak bijaksana kiranya jika saya sembarangan membeli buku dan ‘terpaksa’ membacanya (karena eman-eman sudah membelinya) dan terpaksa pula menjejalkannya ke dalam pikiran. Saya harus menentukan dalam bentuk seperti apa pikiran saya akan dibentuk oleh buku, pemikiran-pemikiran apa yang sebaiknya masuk dan yang sebaiknya tidak, serta bagaimana tindak lanjut saya setelah membaca sebuah buku. Pada prinsipnya sama seperti memilih pendidikan yang tepat buat diri kita sendiri secara mandiri. Sejauh ini sih saya belum merasa ada pemikiran yang salah yang masuk ke kepala saya. Namun jika nafsu saya membeli buku tidak diatur secara cermat, bencana pikiran akibat tindakan yang kurang cermat ini bukan tidak mungkin terjadi.

Pemikiran saya yang menuju ke arah berhati-hati ini tentu akan membuat saya berlama-berada di kios/toko buku sebab tidak ingin salah membeli. Namun hal ini bisa diminimalisir sebenarnya dengan membuat perencanaan yang matang sebelum pergi membeli buku. Membaca terlebih dahulu resensi buku yang objektif tentu bisa juga jadi bahan pertimbangan yang baik. Terakhir namun tidak kalah penting adalah banyak-banyak berdiskusi dengan teman yang paham soal buku (untunglah sobat-sobat saya di pancoran -alex,teguh,robby,agus- tahu banyak soal ini).

Memilih buku adalah memilih pikiran. Adalah suatu kewajiban bagi diri kita sendiri untuk mencari kebenaran berpikir yang selanjutnya bisa menjadi pijakan untuk mencapai kebenaran bertindak. Teruslah membaca, Teman-teman.