Boyongan ke Wordpress

March 11th, 2008 by anton-dewantoro

http://antondewantoro.wordpress.com/

Afica, the cape of good hope

December 26th, 2007 by anton-dewantoro

Well, here we go again.

Let ask your apologize if I am using English now instead of the lovely language Bahasa Indonesia or even the tongue-mathced Javanese.

My last posting was made in October. I have planned for long long time  ago to migrate from this very minimalist blog into something more satisfying such as Blogger or Wordpress but the circumstances didn’t allow me to spare some time and arrange those changes due to the following reasons:

1. I am still learning why people migrating to Blogger or Wordpress. Silly isn’t it?

2. My mind is messed up so that I can’t arrange any good idea to deliver to you.

3. Nobody is not busy int his world. However, this is my peak time of busy hour.  I am really busy since November up to now. I was planned to post my Rinjani adventure but failed anyway. It’s all because Africa.

Talking about Africa. I love this continent. Maybe it because I am in the most lovely and sophisticated part of Africa. But now I believe that any part of the world coul be beautiful

I promise I will be back with some details and objective view about Africa. I am not even a month here. Even there is a lot I want to tell you but It is better to wait until I got a good idea to bring to you. Hopefully it won’t be long and would have a plenty of good menaing for you.

Happy festive season.

Selamat Natal dan Tahun Baru

See you in the new year, Dear.

Msa shi fo sho…

Pemerintah yang Gede Rasa (2)

October 15th, 2007 by anton-dewantoro

"Kala semanten sang nata sabarang karsanipun, ewah kaliyan adatipun, asring misesa tiyang, tansah nggelaraken siyasat. Para bupati, mantri, tuwin para sentana sami lampah alap-alapan ing kalenggahanipun, sakelangkung resah tataning negari. Tiyang Sa-Matawis sami miris manahipun, sarta asring grahana wulan tuwin srengenge; jawah salah mangsa, lintang kumukus ing saben dalu ketingal. Jawah awu utawi lindhu. Akathah delajat ingkang ketingal. Punika pratandanipun, yen nagari badhe risak…."
–Babad Tanah Jawi

Ketika itu, raja bertindak sesuka hati, tidak seperti biasanya. Ia kerap menyegsarai orang dan menggelar siasat. Para bupati, menteri dan kerabat istana berlaku serakah dalam kedudukannya. Tata kehidupan bernegara menjadi berantakan. Penduduk seluruh Mataram dirundung rasa takut. Sering terjadi gerhana bulan dan matahari. Hujan bukan pada musimnya. Bintang kemukus muncul tiap malam. Hujan abu dan gempa. Banyak pula meteor kelihatan. Itu semua pertanda negara akan rusak.

Pemerintah yang Gede Rasa (1)

October 15th, 2007 by anton-dewantoro

Kebangsaan Indonesia adalah ciptaan rakyat Indonesia, bukan ciptaan pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tinggal mewarisi saja dari rakyat. Tahun 1928, tujuh belas tahun sebelum kemerdekaan, beberapa pemuda yang kita tidak ingat lagi namanya atau anomimus, yang kita ingat salah satunya adalah W.R.Supratman dengan biolanya, menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Pada waktu itu, pemuda menyatakan prasetya, bahwa kami adalah satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, satu tanah air yaitu Tanah Air Indonesia, satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Kontan semua partai politik di Indonesia mengidentifikasikan dengan nama Indonesia.

Aneh, dan juga tiba-tiba Madjoindo, Marah Roesli mengarang dalam bahasa Indonesia, Armijn Pane dan Sanoesi Pane berkata Horas Bah, lalu mengarang dalam bahasa Indonesia. J.E.Tatengkeng orang Sangir, menulis dalam bahasa Indonesia. M.R.Dayoh menulis dalam bahasa Indonesia. Ki Panji Tisna mengarang novel dalam bahasa Indonesia. Gesang membuat lagu Bengawan Solo dalam bahasa Indonesia. Tiba-tiba saja itu diterima sebagai bahasa nasional. Padahal, Pemerintah belum ada….

Tidak ada satu penguasa pun yang bisa mempersatukan. Sultan Agung yang namanya Agung, mempersatukan Jawa saja tidak bisa. Masuk Betawi saja tidak bisa, hanya sampai Matraman, Batavia. Sampai Belanda masuk tidak satu pun penguasa yang bisa mempersatukan ‘Indonesia’. Belanda pun tidak bisa….

…Tetapi bangsa Indonesia sendiri, bahkan yang anonimus bisa mengatakan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa dan partai-partai pun mengidentifikasikan Indonesia, lahir sastra Indonesia….

…itu dari rakyat. Pemerintah jangan gede rasa dan mengira tanpa pemerintah tidak ada persatuan dan kesatuan. Justru pemerintah yang mengacaukan rasa berbangsa.

–Orasi Kebudayaan oleh W.S.Rendra,
Pagelaran Keraton Yogyakarta, 20 Agustus 1998

Pengen Punya Rumah

October 3rd, 2007 by anton-dewantoro

Punya Rumah

Setelah punya rumah apa lagi cita-citamu?
Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat senja supaya saya
dan senja sempat minum teh di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,

uang makin banyak maunya, jalanan macet,
akhirnya pulang terlambat.
Seperti turis lokal saja, singgah menginap
di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.
                    –JOKO PINURBO

Rumah. Siapa tak memimpikan punya rumah? Di pinggiran kota Jakarta, di sebuah sudut yang asri, lingkungan bebas banjir, akses ke jalan tol, fasilitas penunjang lengkap. Atau sebuah rumah di wilayah barat Sleman yang masih bernuansa pedesaan, bebas gempa, kabut di pagi hari, suasana yang menenteramkan hati dan pikiran…. hmmm jutaan orang memimpikannya.

Tapi apa artinya semua itu kalau bahkan untuk sekedar melewatkan waktu tidur dengan cukup di rumah pun sulit, bercengkerama dengan anak dan istri merupakan kesempatan yang menjadi amat langka, televisi berbayar tidak tertonton, kolam renang tidak terceburi, hanya pembantu yang menjadi raja/ratu sepanjang hari di rumah kita.

Sayangnya saya pribadi sejak dulu memang bukan orang rumahan. Jadi tidak terlalu mengerti konsep dan cara pandang yang benar mengenai rumah. Bagaimana jika kelak saya memiliki rumah? Rumah seperti apa yang saya inginkan untuk tinggal? Berapa jam sehari saya bisa berada di dalamnya? Bagimana hubungan saya dengan penghuni-penghuninya yang notabene adalah keluarga yang kelak akan saya bangun? Bagaimana saya membangun hubungan dengan tetangga dan lingkungan sekitar? Sulit sekali bagi saya untuk membayangkan.

Rumah tetaplah suatu hal yang besar dalam hidup yang sulit untuk dibayangkan, terlebih lagi untuk dibeli, dan bahkan juga termasuk untuk ditinggali dengan benar.
Bagaimana dengan anda?

Asal-Usul Paskah

October 1st, 2007 by anton-dewantoro

PASKAH

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya membawa celana
yang dijahitnya sendiri

"Pas kah?" tanya Maria
"Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

            Joko Pinurbo

I . R . I

September 24th, 2007 by anton-dewantoro

Silver bird atau Bajaj, Town House atau Kontrakan, Tuna Sandwich atau Toge Goreng, seneng… susah… Life Goes On — Benny & Mice

Dari A sampai Z semua bikin heran. Si A yang dulu kecil, imut, dan culun*, kini sudah punya BMW sendiri sementara saya baru bisa beli sekuter. Si Z yang dulu polos dan lugu sekarang sudah punya rumah di kawasan cukup mewah sementara saya masih nge-kos. Ada pula yang sudah punya bisnis yang melayani klien multinasional sementara saya masih celingak-celinguk cari kios di pasar Cipulir. Yang lain lagi malah sudah jadi insinyur antar bangsa yang sudah melanglangbuana ke berbagai belahan bumi sementara saya …(hmm sepertinya yang ini off-the-record saja, saya malu).

Irikah saya? Mungkin. Yang jelas saya sudah merasa tertinggal banyak dari teman-teman yang dulu memulai perjuangan dari titik nol yang sama. Akankah rasa iri ini berlangsung terus-menerus? Mudah-mudahan jawabannya adalah "Ya" selama dalam arti positif yaitu bukan saya terus menerus tertinggal jauh namun saya pun ingin selalu bersaing sejajar dengan rekan-rekan yang lain.

Meskipun bisa dibilang saat ini prestasi hidup saya sangat biasa-biasa saja namun saya sangat menikmati hidup ini bersama secangkir kopi dalam cangkir blirik** dan ide-ide gila. Semoga nikmat ini tidak segera berlalu dan tidak membuat saya terlena untuk terlalu menikmati hidup dan lupa berprestasi.

Saya berterima kasih kepada teman-teman yang sangat sukses yang membuat saya selalu iri dan kemudian ingin berprestasi juga. Sungguh benar kata orang bahwa saya sebenarnya adalah manusia dengan kemampuan yang sangat pas-pasan namun selalu mendapatkan lingkungan dan kompetisi yang baik untuk mengembangkan diri. Semoga saya tidak selamanya hanya jadi produk dari lingkungan namun suatu saat lingkungan itulah produk saya.
Salam Sukses.

* Saya sendiri kurang paham apa sebenarnya arti kata culun
** Cangkir sederhana dari kaleng yang di cat belang-belang yang saya beli di dekat rumah Arlen Lempuyangan.

Mengapa Harus Jakarta?

September 2nd, 2007 by anton-dewantoro

Dalam jumlah yang sangat besar, para pelamar kerja datang untuk wawancara dan belum pernah pergi ke Dhaka sebelumnya. Untuk membiayai perjalanan wawancara ini, orang tuanya sering menjual hasil panen, pohon, sapi, kambing, atau perhiasan. Orang tua dari setidaknya setengah pelamar kami meminjam uang dari rentenir untuk membiayai perjalanan itu. Lebih dari separuh kandidat tiba di Dhaka persis pada hari wawancaranya karena mereka tidak punya kawan atau kerabat tempat menginap dan mereka tidak mampu menginap di hotel atau wisma.–Muhammad Yunus, Grameen Bank.

September. Dua tahun lalu, September 2005, saya juga untuk pertama kalinya berangkat wawancara kerja ke Jakarta dari Yogyakarta tempat saya tinggal. Beruntung, itu bukan kali pertama saya pergi ke Jakarta dan beruntung pula ada beberapa teman yang terlebih dahulu bekerja di kota itu. Dengan demikian saya tidak benar-benar terasing. Perjalanan wawancara kerja pertama itu terasa sangat melelahkan dan hasilnya cukup mengecewakan namun memberi saya banyak pelajaran untuk wawancara-wawancara kerja berikutnya.

Selain melelahkan, wawancara kerja di luar kota juga membutuhkan biaya cukup tinggi. Berikut ini anggaran sangat minimum untuk wawanacara kerja di Jakarta:

    - Berangkat dengan kereta api bisnis             Rp 100.000
    - Angkot/Bus selama di Jakarta (min)            Rp  20.000
    - Makan (3X) + Minum ++                               Rp  40.000
    - Pulang dengan kereta api ekonomi               Rp  38.000
                                                          TOTAL    RP 198.000
Mari kita bulatkan saja menjadi Rp 200.000,oo hampir seharga 1 gram emas. Beruntung tidak satu gram-pun perhiasan milik ibu saya harus terjual untuk wawancara :) .
Anggaran itu akan jauh membengkak jika saja kita tidak memiliki rekan atau kerabat untuk ditumpangi barang semalam sehingga kita harus tidur di hotel/penginapan. Lebih besar lagi jika kita menggunakan moda angkutan yang cepat dan nyaman seperti kereta api eksekutif atau pesawat terbang. Sungguh tak terbayangkan lagi berapa besar biaya yang harus ditanggung jika saja pelamar berasal dari luar pulau.

Dan setiap tahunnya jumlah orang-orang yang "harus" wawancara kerja di Jakarta semakin meningkat saja. Beberapa orang bahkan harus melakukannya lebih dari sepuluh kali pulang pergi demi mendapatkan pekerjaan yang terkadang hanya memberikan gaji sangat pas-pasan. Beruntung saya hanya cukup lima kali bolak-balik Jogja-Jakarta dan beruntung pula mendapatkan pekerjaan yang cukup layak untuk saya lakoni sampai saat ini.

Baiklah, cukup, saya menuangkan tulisan ini bukan untuk memamerkan betapa "beruntung"-nya saya. Saya hanya ingin mempertanyakan:
    MENGAPA HARUS JAKARTA?
Mengapa kesempatan sangat langka di daerah?
Mengapa penghidupan di daerah cenderung lebih sulit?
Mengapa hanya di Jakarta kesempatan mengembangkan diri terasa lebih terbuka luas?
Mengapa segala macam fasilitas kehidupan modern kelas dunia hanya ada di Jakarta?
Mengapa pekerjaan di kampung halaman bagi saya pribadi terasa kurang menantang?
Mengapa juga masalah klasik ini masih menjadi pertanyaan yang tak terselesaikan?

Sudahlah saya pusing euy…toh saya juga menikmati menjadi pelaku urbanisasi massal tersebut, toh Jakarta masih mampu menampung beberapa juta orang tambahan lagi meskipun tak tahu entah sampai kapan. Saya harap muncul orang-orang cerdas dan berpendirian kuat yang tidak hanya berhenti pada kepusingan seperti saya. Sungguh, kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mengapa harus Jakarta jika Manado bisa, Pontianak bisa, Manokwari bisa, Waikabubak bisa, Sibolga bisa, Wonosari bisa, Bangkalan bisa, Singaraja bisa, dimana saja bisa?

"Jika kita bisa mengentaskan kemiskinan di desa, itu akan mengurangi tekanan pada kaum miskin untuk berduyun-duyun ke Dhaka dan memadati jalan," tambah Prof.Yunus.

Karena Hidup Ini Bukan Sebuah Latihan untuk Kehidupan Berikutnya

August 9th, 2007 by anton-dewantoro

Sudah banyak saya lihat firma dagang yang runtuh. Dan seringkali, bila saya selidiki sebab-sebabnya, maka saya mendapat kesan bahwa sebabnya ialah karena kebanyakannya diberi arah yang salah semenjak kecil. MAX HAVELAAR-multatuli.

Kejadian-kejadian acak memang selalu melingkupi kehidupan kita selama di bumi ini meskipun para ahli filosofi mengklaim bahwa setiap hal yang bersifat acak sebanarnya adalah sebuah runtun berpola yang sangat panjang dan rumit. Seperti halnya struktur tubuh kita yang terdiri dari bagian-bagian penyusun yang sangat banyak yang sebenarnya hanya berasal dari dua sel yang bersatu kemudian membelah mengikuti pola deret tertentu hingga menjadi individu yang kompleks. Semua perkara sulit jika disederhanakan menjadi satuan-satuan kecil pada dasarnya hanya terdiri atas logika-logika sederhana. Sayangnya saya tidak memiliki daya analisis yang cukup tajam terhadap setiap perkara yang saya temui dalam hidup ini.

Dan jadilah begini, semua hal acak yang terjadi di sekitar sulit untuk dimengerti tapi terjadi. Seolah-olah kita tidak punya kuasa apapun untuk mengubahnya. Apa yang kita bangun dan harapkan tiba-tiba harus menjadi tidak berpengharapan dan sulit lagi untuk dibangun. Tapi kembali bangun adalah pilihan yang tidak bisa tidak.

Membangun bisnis sendiri sepertinya cita-cita sejak lama yang wajib untuk diwujudkan, tapi bagaimana memulainya dan dasar apa yang akan saya gunakan, supaya kelak bisnis itu tidak salah arah dan buyar dengan sia-sia, belumlah saya mengerti. Membangun rumah tangga juga sepertinya menjadi pilihan yang wajib dilakoni, tapi landasan untuk menuju ke arah situ sepertinya belum saya miliki dengan pasti. Saya khawatir kalau membuat kekeliruan akan hal ini maka bukan saya namun juga istri dan anak-anak saya kelak turut menanggung akibatnya. Kata orang, kreativitas itu harus didasari sikap untuk berani mengambil resiko, namun bagaimanapun hidup ini hanya sekali. Dan hidup harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian karena hidup ini bukan sebuah latihan untuk kehidupan berikutnya.

ING WAYAH ESUK

July 18th, 2007 by anton-dewantoro

Mugi Karsaa mberkahi sadaya kemawon ingkang kawula tresnani saha ingkang kepanggih kawula ing dinten punika, nanging langkung-langkung sadherek-sadherek ingkang saweg nandhang kasusahan lan mbetahaken panglipur Dalem Gusti.

Ing wayah esuk
mangsane wong tangi turu,
tangia gregah;
aja ndadak nganggo nuruti aras-arasen.
Iki kanggo nggulang watak satriya.
Enggal ngunjukake urip ingarsa Dalem.

Ngunjukake pagawean ing sadina-dinane iku perlu banget,
awit kabeh kang kolakoni,menawa kounjukake ing Gusti,
ngundhakake kamulyan Dalem.
Uripmu banjur ora muspra.
Dadi salaras banget karo karsaning Pangeran.

Yen uripmu cocok karo karsa Dalem Gusti,
iku jenenge urip temenan,
pantes, lan drajating manungsa,
tur uripmu uga bakal begja.

PADUPAN KENCANA